AYOJAKARTA.COM - Jakarta terus bersiap menghadapi tantangan iklim dan risiko bencana hidrologi dalam dua dekade ke depan.
Menanggapi urgensi ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan bahwa pengendalian banjir dan manajemen bencana menjadi prioritas utama dalam rencana pembangunan Jakarta untuk periode 2025-2045.
Strategi yang diusung tidak lagi bersifat parsial, melainkan sebuah ekosistem solusi yang terintegrasi untuk melindungi warga dan infrastruktur kota.
NCICD Benteng Pertahanan Pesisir Jakarta
Salah satu pilar utama dalam strategi jangka panjang ini adalah pembangunan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Giant Sea Wall.
Program ini dipandang sebagai langkah krusial untuk mengatasi ancaman banjir rob dan penurunan muka tanah di wilayah pesisir Jakarta.
"Dalam rencana pembangunan Jakarta 2025-2045, Jakarta memprioritaskan pengendalian banjir dan manajemen bencana Jakarta menerapkan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir untuk meningkatkan manajemen banjir," kata Pramono Anung dalam postingan di media sosial Instagram yang diunggah pada Rabu, 29 April 2026.
Menurut Pramono Anung, NCICD merupakan salah satu program kunci dalam upaya besar pengelolaan banjir di Jakarta.
Kehadiran tanggul laut raksasa ini diharapkan mampu menjadi solusi permanen dalam menahan laju kenaikan permukaan air laut.
Dengan infrastruktur yang kokoh di garis pantai, Jakarta diharapkan memiliki sistem pertahanan yang mumpuni untuk menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi akan semakin sering terjadi di masa mendatang.
Selain fokus pada pertahanan pesisir, Jakarta juga akan mengadopsi pola manajemen air yang lebih komprehensif.
Pramono Anung mengungkapkan bahwa Jakarta menerapkan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir untuk meningkatkan manajemen banjir secara keseluruhan.
Strategi ini mengakui bahwa masalah air di Jakarta tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki saluran di dalam kota, tetapi harus melibatkan koordinasi yang erat dengan wilayah penyangga.
Pendekatan dari hulu ke hilir mencakup berbagai aspek, mulai dari normalisasi atau naturalisasi sungai, pembangunan waduk dan embung sebagai area parkir air, hingga optimalisasi sistem pompa di titik-titik rawan.
Dengan mengelola aliran air sejak dari titik awal hingga pembuangan akhir di laut, beban saluran drainase di pusat kota dapat dikurangi secara signifikan.
Visi Jakarta Tangguh 2045
Dalam peta jalan pembangunan 2025-2045, visi utamanya adalah menjadikan Jakarta sebagai kota yang memiliki ketangguhan bencana.
Prioritas pada pengendalian banjir dan manajemen bencana menunjukkan komitmen pemerintah untuk menciptakan rasa aman bagi investasi dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Melalui integrasi teknologi, pembangunan infrastruktur fisik seperti Giant Sea Wall, dan manajemen tata ruang yang lebih baik, Jakarta optimis dapat meminimalisir dampak kerugian akibat banjir di masa depan.
Strategi yang dipaparkan oleh Pramono Anung ini menjadi landasan penting bagi transformasi Jakarta menuju kota global yang aman dan berkelanjutan.***

Share this article
Gubernur Pramono Anung prioritaskan pengendalian banjir Jakarta 2025-2045 melalui proyek Giant Sea Wall (NCICD) dan manajemen air terintegrasi hulu-hilir demi mewujudkan kota tangguh bencana.