AYOJAKARTA.COM - Dinkes DKI Jakarta secara tegas memastikan bahwa penyebaran penyakit Hantavirus tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) di wilayah Indonesia tergolong kecil.
Walaupun begitu, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada.
"Kemungkinan masuknya penyakit virus Hanta tipe HPS ke Indonesia dari luar negeri dinilai rendah," ujar Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, dikutip ayojakarta.com dari YouTube MetroTV pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Ani meminta masyarakat melakukan berbagai upaya pencegahan dari Hantavirus, yakni mulai dari disiplin mencuci tangan dengan sabun, serta menghindari kontak dengan hewan pengerat seperti tikus.
Sebagai informasi, penularan dapat terjadi melalui gigitan, paparan kotoran (air liur, urine, feses) dari tikus, bahkan percikan partikel udara yang terhirup seperti dari debu.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan menjadi faktor penting, terlebih di area tempat tinggal dan ruang kerja.
Selain itu, menutup area lubang yang berpotensi menjadi akses masuk tikus juga perlu dilakukan.
Gejala penyakit Hantavirus perlu diwaspadai sejak dini.
Gejala Penyakit Hantavirus
Umumnya, penderita akan mengalami demam, nyeri otot terutama di bagian paha, pinggul, dan punggung, serta kelelahan.

Selain itu, dapat muncul gejala lain seperti sakit kepala, pusing, mual, muntah, dan nyeri perut.
Pada kondisi yang lebih parah, Hantavirus tipe HPS dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius, seperti sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru.
Jika memiliki gejala dari penyakit Hantavirus, masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan ke puskesmas.
Dinkes DKI memastikan seluruh fasilitas kesehatan dapat mendeteksi ancaman penyakit ini.***
Share this article
Dinkes DKI Jakarta secara tegas memastikan bahwa penyebaran penyakit Hantavirus tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) di wilayah Indonesia tergolong kecil, ini gejalanya.