AYOJAKARTA.COM — Meski belum masuk jadwal masa kampanye yang telah ditetapkan KPU, tiga paslon peserta Pilkada Jakarta sudah sering bergerilya ke tengah masyarakat.
Selain mencoba berkerumun di tengah keramaian, para paslon Pilkada Jakarta juga berusaha memikat simpati publik dengan menyerap aspirasi dan permasalahan.
Di samping meningkatkan popularitas, interaksi langsung dengan masyarakat menjelang perhelatan Pilkada Jakarta juga merupakan upaya mendongkrak elektabilitas.
Sehubungan dengan adanya fenomena calon kepala daerah yang mulai semakin terlihat sering berada di tengah masyarakat, Direktur Parameter Politik Indonesia menanggapi.
Menurut Adi Prayitno, upaya calon kepala daerah dalam meraih simpati publik melalui berbagai cara dan menjadi sorotan merupakan bagian dari strategi politik yang rasional.
Baca Juga: Heboh Gerakan Anak Abah Coblos 3 Paslon di Pilkada Jakarta 2024, Peneliti SMRC: Itu Gerakan Wajar
“Karena calon-calon ini sebenarnya belum sepenuhnya dikenal 100 persen oleh Pemilih warga Jakarta, baik Pramono, RK maupun Dharma Pongrekun,” jelas Adi, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV pada Selasa, 17 September 2024.
Lebih lanjut Adi menilai, pertemuan langsung yang disertai suasana membaur antara calon dengan pemilih merupakan salah satu bentuk sosialisasi paling digemari warga Jakarta.
Sehingga tidak mengherankan apabila masing-masing paslon silih berganti untuk menerapkan blusukan, menyerap aspirasi atau sekedar berkerumun.
Adi menilai pendekatan tersebut masih relatif efektif dilakukan, karena berangkat dari blusukan dan pertemuan acap kali memberikan janji-janji menggiurkan.
Terkait dengan janji-janji para peserta Pilkada Jakarta, pasangan Dharma-Kun berkomitmen menjadikan kesehatan sebagai hal paling esensial bagi warga Jakarta.
Baca Juga: Pramono Anung dan Rano Karno Optimis Menang Satu Putaran di Pilgub Jakarta: Kalo Dua Capek
Sementara pengadaan dana operasional mencapai nilai 200 juta rupiah setiap RW pernah dijanjikan oleh pasangan Rawon, Ridwan Kamil-Suswono.
Berbeda dengan kedua pesaingnya, Pramono-Rano berkomitmen akan memprioritaskan warga Jakarta lulusan SD untuk bisa menjadi PPSU atau tim oranye.
Namun demikian, janji-janji politik yang disampaikan oleh para paslon tidak secara kualitas akan berpengaruh pada kuantitas elektabilitas.
“Setiap omongan mereka tentu bagian dari engagement, di Jakarta ini adalah pemilih rasional mayoritas, mereka melihat figur bukan bantuan yang diberikan,” imbuh Adi.
Sehubungan dengan komitmen yang ditawarkan para paslon, Adi melihat pentingnya untuk memastikan kontrak politik sebagai bagian dari strategi kemenangan.
Baca Juga: RK-Suswono Targetkan Menang 1 Putaran di Pilgub Jakarta 2024, Gaet Anies Baswedan?
Dua persoalan terbesar yang kerap menghantui warga Jakarta, menurut Adi tidak pernah lepas dari Banjir dan Kemacetan.
Paslon yang bersedia untuk memberikan effort optimal untuk menyelesaikan dengan tanggung-jawab, menurut Adi bisa muncul sebagai pemenang.
“Misal ada yang berani, kalau saya terpilih jadi Gubernur dua tahun persoalan banjir akan selesai, kalau tidak bisa merealisasikan saya akan mundur, itu akan menarik,” tegasnya.***

Share this article
Janji-janji politik yang disampaikan oleh para paslon tidak secara kualitas akan berpengaruh pada kuantitas elektabilitas.