JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ketua MPR Bambang Soesatyo mendesak pemerintah untuk mulai berupaya memperkuat jiwa kebangsaan, atau yang lazim dikenal dengan ungkapan nation character building.
Menurut dia, penguatan jiwa kebangsaan Indonesia ini relevan karena perubahan zaman dan derasnya impor budaya asing menyebabkan sebagian orang muda masa kini nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya.
"Ada indikasi lunturnya jiwa kebangsaan di kalangan orang muda," kata Bamsoet dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/12/2019).
Ditemukan fakta bahwa sikap dan pola pikir intoleran serta radikalisme sudah menyusup ke satuan pendidikan tingkat dasar hingga atas. Lalu, 10 perguruan tinggi sudah terpapar radikalisme.
Pada pertengahan Juni 2019, ulas Bamsoet, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memaparkan sekitar 23 persen penduduk Indonesia menolak eksistensi ideologi Pancasila, dan sembilan persen penduduk Indonesia setuju menggunakan kekerasan untuk mendirikan negara khilafah.
Ketua MPR mengingatkan bahwa jiwa kebangsaan Indonesia sudah lama terbentuk dan sudah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dilandasi spiritualisme dan nasionalisme, lima sila dari Pancasila menjadi pijakan jiwa kebangsaan Indonesia. Di dalamnya mencakup pembangunan dan pembentukan budi pekerti yang baik, perilaku hidup bermasyarakat yang toleran hingga semangat persaudaraan dengan bangsa lain.
"Dan karenanya, sejak dahulu kala, dunia mengenal keberagaman warga bangsa Indonesia sebagai komunitas masyarakat yang santun dan toleran," terangnya
Namun, lanjut Bamsoet, generasi orang tua masa kini tidak sepenuhnya menurunkan warisan itu kepada anak-cucu atau orang muda Indonesia masa kini, sehingga mereka menjadi sangat mudah untuk menerima ideologi atau ajaran sistem nilai yang diimpor dari tempat lain.
"Akibatnya memang fatal, karena sebagian orang muda seperti tidak memiliki jiwa kebangsaan Indonesia itu," imbuh mantan ketua DPR tersebut.
Bahkan ada kelompok yang tidak lagi merasa bangga sebagai orang Indonesia.
"Semua itu layak dilihat sebagai sebuah kerusakan. Dan, sudah barang tentu kerusakan itu harus diperbaiki," tegasnya.
Menurut dia, sudah ada momentum untuk melakukan perbaikan atas kerusakan itu, karena dalam lima tahun ke depan, pemerintah akan fokus membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
"Kemendikbud dan Kemenristek pasti fokus mendorong anak didik dan mahasiswa untuk membangun kompetensi. Pilihan ini tidak salah, dan memang sudah seharusnya begitu," tuturnya.
Namun ia berharap kedua kementerian itu bisa menyisipkan kurikulum yang menyentuh pembangunan karakter atau jiwa kebangsaan Indonesia. Dengan pendekatan sepert itu, Bamsoet optimistis pondasi NKRI akan semakin kokoh di masa depan.

Share this article
Penguatan jiwa kebangsaan Indonesia ini relevan karena perubahan zaman dan derasnya impor budaya asing menyebabkan sebagian orang muda masa kini nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya.