AYOJAKARTA.COM - Musisi sekaligus penulis, Fiersa Besari, menjadi sasaran serangan phishing usai aktif menyuarakan aspirasi masyarakat terkait situasi politik Indonesia yang kian memanas.
Lewat media sosialnya, Fiersa kerap menyampaikan kritik terhadap kebijakan DPR dan pemerintah, terutama yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Namun, sikap vokal tersebut justru membuat akun media sosialnya jadi incaran peretas. Dalam unggahan di Instagram Stories, Fiersa memperlihatkan deretan email mencurigakan yang masuk ke kotak pesannya.
Baca Juga: Prediksi Timnas Indonesia vs Taiwan di FIFA Matchday, Patrick Kluivert Siapkan Taktik Jitu
Email tersebut mengatasnamakan Instagram, Meta, hingga support palsu, berisi tawaran centang biru gratis, ancaman penutupan akun, hingga tautan verifikasi palsu.
Alih-alih panik, Fiersa menanggapinya dengan nada humor. “Aaawww. So sweet banget. Semangat ya usaha nge-hack-nya,” tulisnya, membuat warganet terhibur sekaligus semakin waspada terhadap modus phishing.
Phishing sendiri merupakan upaya penipuan digital untuk mencuri data pribadi korban. Biasanya korban diarahkan mengklik tautan berbahaya yang dapat digunakan peretas untuk mengambil alih akun hingga melakukan penipuan.
Di sisi lain, nama Ferry Irwandi juga tengah ramai diperbincangkan. Aktivis sekaligus konten kreator ini mengaku menjadi korban doxing, fitnah, hingga ancaman pembunuhan setelah lantang mengkritik DPR terkait tunjangan pensiun.
Baca Juga: Lawan Rasa Takut, Jerome Polin Turun ke Jalan Pertama Kalinya untuk Suarakan Tuntutan Rakyat
Ferry menilai tunjangan tersebut sebagai beban fiskal negara dan menyerukan agar fasilitas itu dihapus. Tak hanya itu, Ferry juga mendorong reformasi menyeluruh pada DPR, partai politik, hingga aparat negara.
Dalam aksi 1 September 2025, ia menjadi salah satu orator utama yang menyuarakan 17 tuntutan rakyat dan 8 agenda jangka panjang.
Tuntutan itu mencakup penarikan TNI dari pengamanan sipil, investigasi independen untuk korban demonstrasi, transparansi anggaran DPR, serta evaluasi proyek strategis nasional.
Gerakan ini turut diikuti sejumlah figur publik seperti Jerhemy Owen, Abigail Limuria, Andovi dan Jovial da Lopez, hingga Fathia Izzati.
Mereka diterima anggota DPR, Rieke Diah Pitaloka dan Andre Rosiade, yang berjanji membawa tuntutan tersebut ke forum resmi.
Fenomena serangan digital terhadap Fiersa dan intimidasi terhadap Ferry memperlihatkan risiko yang dihadapi publik figur ketika bersuara lantang.
Meski begitu, keduanya menegaskan tidak akan berhenti menyuarakan aspirasi rakyat demi Indonesia yang lebih transparan dan adil.***

Share this article
Fiersa Besari kena phishing usai vokal kritik DPR, sementara Ferry Irwandi hadapi doxing dan ancaman usai suarakan 17+8 tuntutan rakyat soal transparansi, reformasi, dan keadilan.