SURABAYA, AYOJAKARTA.COM – Di tengah derasnya arus informasi digital dan persaingan konten yang semakin ketat, media komunitas atau homeless media dituntut tidak hanya menjadi penyebar informasi, tetapi juga menghadirkan ruang yang nyaman dan terpercaya bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Co-Founder Infogresik, Muhammad Irwan, dalam Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up Surabaya 2026 yang digelar di Kogu Space Surabaya, Kamis, 4 Juni 2026.
Dalam forum yang dihadiri pengelola media komunitas, kreator konten, akademisi, dan pegiat media sosial dari berbagai daerah itu, Irwan menegaskan bahwa tantangan terbesar media komunitas saat ini bukan sekadar mengejar jumlah pengikut atau menyesuaikan perubahan algoritma platform, melainkan menjaga kepercayaan publik.
Menurutnya, istilah homeless media tidak berarti media yang tidak memiliki tempat. Sebaliknya, media komunitas harus mampu menjadi “rumah” bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat, dekat, dan relevan dengan kebutuhan mereka.
“Meskipun kita tidak punya rumah, tetapi kita bisa menjadi rumah yang nyaman bagi banyak orang,” kata Irwan.
Ia menjelaskan, masyarakat saat ini menghadapi kondisi yang disebutnya sebagai tsunami informasi. Berbagai informasi membanjiri ruang digital setiap hari, mulai dari berita, opini, hingga konten sensasional yang sering kali belum terverifikasi.
Kondisi tersebut membuat audiens semakin selektif dalam memilih sumber informasi yang dapat dipercaya.
“Homeless media sekarang bukan lagi soal siapa yang paling cepat. Yang paling penting adalah bagaimana menjadi media yang dipercaya. Tinggal memilih, mau cepat mendapatkan viewers atau mendapatkan kepercayaan,” ujarnya.
Irwan menilai media komunitas memiliki keunggulan karena berada dekat dengan masyarakat dan memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Kedekatan tersebut menjadi modal penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens dibandingkan sekadar mengejar viralitas.
Karena itu, ia mendorong pengelola media komunitas untuk menjalankan peran sebagai kurator informasi. Setiap informasi yang diterima, terutama yang berasal dari warga, perlu diverifikasi sebelum dipublikasikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penyebaran informasi yang keliru.
“Tidak semua informasi bisa langsung diposting. Kita harus memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Menurut Irwan, sebagian besar media komunitas lahir dari semangat citizen journalism atau jurnalisme warga. Namun seiring berkembangnya pengaruh media komunitas, tanggung jawab yang diemban juga semakin besar.
Media komunitas tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara warga dengan pihak-pihak yang dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mencontohkan, ketika warga menemukan persoalan di lingkungan mereka, media komunitas dapat membantu menghubungkan informasi tersebut kepada pihak yang berwenang sekaligus memastikan informasi yang beredar tetap akurat.
“Kadang-kadang masyarakat hanya ingin didengar. Mereka ingin ada tempat yang bisa dipercaya untuk menyampaikan keluhan atau persoalan yang mereka hadapi. Di situlah media komunitas bisa berperan,” ujarnya.
Irwan juga menyoroti perubahan algoritma platform digital yang terus terjadi. Menurutnya, algoritma dapat berubah setiap saat, tetapi kepercayaan yang dibangun bersama audiens merupakan aset yang jauh lebih berharga dan bertahan dalam jangka panjang.
“Algoritma bisa berubah setiap menit, setiap detik. Tetapi rasa memiliki dan kepercayaan dari audiens tidak bisa dibangun secara instan,” katanya.
Selama lebih dari 16 tahun mengelola Infogresik, Irwan mengaku konsistensi menjaga kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat media komunitas tetap relevan di tengah perubahan lanskap digital.
Karena itu, ia mengajak para pengelola media komunitas untuk terus mengedepankan akurasi, edukasi, dan tanggung jawab sosial dalam setiap konten yang dipublikasikan.
“Ketika masyarakat merasa nyaman dan percaya, maka media komunitas benar-benar menjadi rumah bagi mereka. Itu yang harus terus kita jaga bersama,” pungkasnya.
ISMN Meet Up Surabaya 2026 diikuti oleh sekitar 50 homeless media dari Surabaya raya. Menghadirkan narasumber Jokhanan Kristiono sebagai pengamat media sosial dari Stikosa AWS, Founder ISMN Arif Budianto, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto, dan Co-Founder Infogresik Muhamad Irwan.
ISMN Meet Up Surabaya 2026 hasil kerja sama Ayo Surabaya.com, Beritajatim.com, dan Jatim Connect. Serta disponsori oleh Bank Mandiri, Noor Dinar, Pelindo Regional 3, Telkom Indonesia, Pertamina Hulu Indonesia, J&T Cargo, PT Alur Pelayaran Barat Surabaya, Bumi Suksesindo Copper and Gold, PT Dharma Lautan Utama, Cogu Space, dan Diskominfo Provinsi Jawa Timur.
Indonesia Social Media Network (ISMN) merupakan komunitas dan jejaring media sosial (homeless media). ISMN di bawah naungan Ayo Media Network ini, terbentuk sejak 2025. ISMN telah menggelar berbagai kegiatan seperti ISMN Meet Up, diskusi, kolaborasi komunitas, hingga program kreatif bersama brand dan media regional.
ISMN Meet Up sebelumnya sukses digelar di tiga kota besar yaitu Bandung, Semarang, dan Yogyakarta dengan peserta lebih dari 150 homeless media. ISMN terus membuka ruang kolaborasi dengan media lokal atau pengelola akun media sosial lainnya di seluruh Indonesia untuk membangun jejaring di daerahnya atau menggelar event Bersama. Informasi dan kontak ISMN dapat mengakses website www.indonesiasocialmedianetwork.id.

Share this article
Infogresik tegaskan Homeless Media wajib jadi rumah nyaman bagi publik. Simak strategi kelola konten lokal yang tepercaya di sini!