AYOJAKARTA.COM - Transisi jabatan Presiden dari Joko Widodo kepada Prabowo Subianto, diharap akan membawa angin keadilan atas berbagai kasus termasuk Jessica Wongso.
Sebab peran strategis Jenderal Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri, dinilai kurang greget dalam menuntaskan kasus Jessica Wongso yang terjadi pada Januari 2016.
Salah satu variabel penyebab perkara kopi sianida yang menyeret nama Jessica Wongso menjadi larut dan carut-marut, adalah minimnya keberanian Kapolri.
Di samping kasus kopi sianida, lemahnya kewenangan dan keberanian Listyo Sigit sebagai Kapolri juga terlihat saat penanganan perkara pasangan Vina-Eky.
Baca Juga: KKS 2 Bank Ini Menyusul Cair dan Mulai Terisi Saldo Bansos PKH-BPNT Periode September-Oktober
Dikutip dari kanal YouTube Balige Academy, Sabtu (12/10/2024), tanpa dilengkapi dengan alat bukti ilmiah yang kuat dan mendasar, sebanyak delapan orang justru ditetapkan sebagai tersangka utama.
Dalam proses pemeriksaan, para tersangka yang kini berstatus terpidana juga diduga mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan.
Sebagaimana dengan kasus Jessica Wongso, penanganan dalam perkara Vina Cirebon juga lahir karena rangkaian rekayasa.
“Kapolri ini tidak punya keberanian untuk menindak tegas mereka, jadi saya bingung dengan mentalitas Kapolri,”
Karena itu dengan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai pengganti Joko Widodo, keadilan di Indonesia diharapkan menjadi lebih humanis.
Pandangan terkait harapan kepada Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih tersebut, disampaikan Rismon Sianipar melalui unggahan video di kanal Youtube-nya.
Lebih lanjut Rismon menilai, sosok yang pantas menyandang jabatan sebagai Kapolri haruslah memiliki rasa Nasionalisme.
Sehingga setiap proses penegakan hukum yang terjadi di Indonesia dapat diselesaikan secara cepat, ringkas dan tegas tanpa mengabaikan dan melanggar batas kemanusiaan.
Menurut Rismon yang sempat hadir sebagai Saksi Ahli, kasus Jessica Wongso merupakan salah satu bukti lemahnya sistem peradilan di Indonesia.
Tanpa diawali dengan proses otopsi, konstruksi kasus Jessica Wongso justru lebih banyak didominasi oleh video hasil rekaman CCTV yang dimanipulasi.
Dengan adanya pengabaian terhadap aspek hukum dan norma, tidak mengherankan citra kepolisian di Indonesia sempat disebut-sebut sebagai instansi paling kotor.
“Wajar kalau tahun 2023 jika tidak salah, kepolisian Indonesia dicap sebagai kepolisian terkorup Nomor 18 dari 100 di dunia dan Nomor 1 se Asia Tenggara,” keluh Rismon.
Terkait dengan upaya pelaporan dugaan terjadinya rekayasa dalam kasus Jessica Wongso, Rismon dengan gencar telah melakukan banyak upaya melalui kanal Youtube dan siniar.
Baca Juga: Review MSI Raider GE68 HX14V, Laptop Gaming dengan Performa Gahar
Meski sejumlah upaya telah dilakukan, Rismon menilai Kapolri saat ini masih belum memperlihatkan itikad untuk melakukan perubahan di tubuh kepolisian.
“Kita bayar 114 triliun untuk kepolisian, tapi kita punya Kapolri yang tidak tegas, bisa disimpulkan Kapolri terburuk sepanjang sejarah,” pungkas Rismon. ***

Share this article
Permintaan Rismon Sianipar kepada Presiden soal kasus sianida Jessica Wongso, minta untuk ganti Kapolri?