AYOJAKARTA.COM -- Belum lama ini ramai di sosial media terkait aksi hacker China yang membobol departemen keuangan negara Amerika Serikat.
Insiden besar oleh hacker di dunia keamanan siber tersebut menyasar Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Menurut informasi resmi bahwa peretas menggunakan celah keamanan dari penyedia layanan keamanan siber pihak ketiga, BeyondTrust.
Baca Juga: Dijamin Anti Disadap! Begini Tips Amankan Akun WhatsApp Kamu dari Hacker
Serangan dilakukan oleh hacker yang diduga disponsori oleh negara China.
Tentunya ini melibatkan pelanggaran keamanan antar negara, di mana dokumen penting berhasil dicuri oleh para peretas.
Surat yang dikirimkan kepada anggota parlemen Departemen Keuangan mengonfirmasi bahwa serangan ini terjadi melalui eksploitasi kunci keamanan yang disediakan oleh BeyondTrust.
Kunci tersebut memungkinkan peretas untuk mengakses terminal kerja seolah-olah mereka memiliki akses fisik langsung ke perangkat tersebut.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar karena dokumen yang dicuri mencakup informasi sensitif tentang ekonomi, bisnis hingga strategi penting Amerika Serikat.
Selain itu waktu serangan juga dianggap strategis ketika banyak pegawai sedang libur musim panas, sehingga aktivitas mencurigakan di terminal kerja lebih sulit terdeteksi.
Meski respon cepat dilakukan oleh Biro Investigasi Federal (FBI) dan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA), serangan ini tetap menyoroti kerentanan signifikan dalam ekosistem keamanan digital Amerika Serikat.
Serangan oleh hacker ini bukan hanya pelanggaran keamanan biasa, melainkan ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan ekonomi AS.
Baca Juga: Takut Diretas? Ini Cara Lindungi HP Android dari Serangan Hacker!
Dokumen-dokumen yang dicuri dapat memberikan China wawasan strategis tentang kehidupan sosial, ekonomi, hingga aktivitas bisnis di AS.
Dalam konteks geopolitik, informasi ini dapat digunakan untuk memperkuat posisi mereka atau bahkan melemahkan kebijakan AS.
Para ahli juga menghubungkan serangan ini dengan isu yang lebih besar yaitu penetrasi teknologi asing seperti TikTok.
Aplikasi ini meski sangat populer di kalangan anak muda namun dianggap sebagai saluran potensial untuk mengumpulkan data pribadi pengguna AS.
Hal ini menimbulkan dilema besar terkait antara manfaat teknologi modern dan risiko privasi yang menyertainya.
Pakar keamanan AS dikerahkan untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah kejadian serupa terulang.***

Share this article
Ramai di sosial media terkait aksi hacker China yang membobol departemen keuangan negara Amerika Serikat.