AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi yang sering terjadi akhir-akhir ini menjadi pertanyaan, khususnya warga yang masiha wam tentang hal ini.
Terlebih lagi gempa bumi sering mengguncang di wilayah Jawa Barat dan banyak juga yang tidak mengenal antara gempa disebabkan oleh aktivitas sesar/ patahan dan zona subduksi yang berada di selatan Jawa.
Salah satu warga Jawa Barat bahkan bertanya terkait seringnya wilayah tersebut dilanda gempa bumi pada unggahan Daryono (Kepada Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG).
Baca Juga: Profil Rapper Dunia Snoop Dogg Pasang Lagu Broery Marantika di Sosial Media
"Pak, kenapa gempa sering terjadi di jawa Barat dan titiknya ada di darat? Apakah krn Jabar pny banyak sesar aktif pak?," cuit akun @ratnaiskana20.
Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, pihak BMKG pun telah mengeluarkan sebuah artikel Ilmiah dengan judul "BENCANA GEMPABUMI SESAR AKTIF VERSUS MEGATHRUST DI SELATAN JAWA BARAT" yang diterbitkan oleh DR. Jaya Murjaya, MSI (31/12/2022).
Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa penyebab aktivitas seismik tinggi di wilayah Jawa Barat adalah karena ada 10 sesar aktif dan sesar tak terdeteksi seperti yang menjadi penyebab wilayah Cianjur diguncang gempa 21 November 2022 lalu.
Selain itu dijelaskan pula beberapa zona pembangkit gempa bumi di wilayah Jawa Barat, diantaranya zona outerrise, zona subduksi (termasuk zona benioff), dan sesar aktif yang sudah teridentifikasi maupun sesar aktif yang belum teridentifikasi (blind fault).
Kemudian berdasarkan gempa bumi yang terjadi di Cianjur 21 November 2022 lalu, sekitar 250 km arah selatan dari gempa bumi Cianjur, terdapat lempeng Australia yang bergerak ke arah “Utara-Timur laut” dengan kecepatan rata-rata sekitar 59mm/tahun menyusup dibawah lempeng Eurasia di zona palung Sunda.
Baca Juga: Gempa Bumi M5.0 Guncang Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Tidak Berpotensi Tsunami
Zona ini merupakan batas pertemuan lempeng tektonik Australia dan Sunda (Eurasia) termasuk daerah seismik aktif tinggi.
Hal ini didasarkan pada gempa-gempa kuat pada zona pertemuan kedua lempeng tektonik tersebut di masa lalu.
Catatan sejarah mengatakan bahwa sejak tahun 2007 telah terjadi 4 (empat) gempa bumi dengan M ≥ 6.5 yang berjarak 250 km dari gempa bumi Cianjur 21 November 2022.
Gempa bumi terbesar di wilayah Jawa Barat yang terakhir adalah gempa bumi tanggal 8 Agustus 2007 dengan M 7.5 kedalaman 280 km pada subduksi lempeng Australia dengan lokasi episenter di laut Jawa (utara Jawa Barat).
Selain itu dalam kurun waktu 50 tahun terakhir terjadi beberapa gempa bumi dengan magnitudo terbesar M6.4.
Baca Juga: Gempa Bumi M5.0 Guncang Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara Tidak Berpotensi Tsunami
Catatan sejarah juga mengatakan bahwa pada masa lalu yaitu abad ke 19 terdapat gempa merusak dengan skala intensitas VIII- IX (kerusakan sedang hingga kerusakan berat) khususnya tiga wilayah yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi.
Dari penjesan diatas beberapa beberapa hal disampaikan oleh penulis artikel ini termasuk perlu adanya kajian lebih lebih serius terkait potensi dampak bencana gempabumi sesar aktif darat.
Dengan demikian dalam kajian potensi dampak bencana gempa bumi sesar aktif darat akan lebih baik dalam mendukung program mitigasi resiko bencana gempa bumi dan tata ruang di masa datang.***

Share this article
3 zona pembangkit gempa buli ini menjadi jawaban kenapa wilayah Jawa Barat sering terjadi guncangan akhir-akhir ini.