JAKARTA, AYOJAKARTA.COM-- Ketua Perhimpunan Bank Nasinal (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, transaksi digital semakin membuat keberadaan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) terancam.
Praktis, bisa jadi tak lama lagi, mesin-mesin ATM pun diprediksi akan hilang.
"Tantangan bank sekarang adalah bagaimana mempensiunkan model lama contohnya ATM. Bagaimana dengan masa depan ATM, apakah masih relevan?akankah dihapus ketika tidak ada lagi transaksi transaksi tunai area publik?" ujar Kartika dalam 'side event' G20 Indonesia "Casual Talks on Digital Payment Innovation" seperti dilansir dari Suara.com-jaringan Ayojakarta.com, Jumat (4/3/2022).
Baca Juga: Praktisnya Fitur bjb Cardless, Tarik Tunai di ATM bank bjb Sekarang Bisa Tanpa Kartu
Selain itu, perkembangan pembayaran digital yang pesat ditambah bisnis acquiring perbankan lantaran saat ini hampir semua bank memiliki bisnis acquiring dengan menggunakan POS (point of sales) dan EDC (electronic data capture).
"Konsumen sekarang yang paling diuntungkan dari perubahan ini karena 5 tahun lalu ada tiga jenis pembayaran, melalui transfer, kartu debit atau kartu kredit. Sekarang ada cara lain menggunakan dompet digital, aplikasi digital dan lainnya. Jadi bagi pengguna bisa memilih mana yang paling murah dan paling mudah digunakan dalam bertransaksi. Segmen yang berbeda memiliki preferensi berbeda," terangnya
Hal ini pun diakui pula Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Menurutnya, wabah virus Corona yang belum usai ditambah potensi perang antara Ukraina dan Rusia turut menggeser gaya hidup masyarakat di dunia.
Salah satunya, semakin menurunnya transaksi yang dilakukan di anjungan tunai mandiri ATM.
ATMBaca Juga: Bansos PKD Cair (KLJ, KPDJ, KAJ) tapi Kartu ATM Bank DKI Terblokir? Ikuti Cara Ini!
Ia mengakui, saat ini semakin sedikit transaksi ATM yang dilakukan masyarakat. Sebagian warga semakin memilih transaksi daring sehingga keuangan digital terus berkembang pesat.
"[Terutama] dalam berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital serta akselerasi digital banking," kata Perry dalam konferensi pers resmi.
Hingga awal tahun ini, transaksi uang elektronik mencapai 66,65% dan secara tahunan mencapai Rp 34,6 triliun.
Bersamaan dengan itu, nilai transaksi digital banking meningkat 62,82% secara tahunan menjadi 4.314,3 triliun.
Baca Juga: Beraksi di 78 Lokasi, Dua Pelaku Ganjal ATM Diringkus Polisi di Bogor
Merujuk pada data bank sentral, nilai transaksi pembayaran menggunakan ATM, kartu debet dan kartu kredit terus mengalami pertumbuhan, meski tidak sebesar transaksi digital.
Tidak hanya itu, transaksi melalui QRIS juga meningkat bersama dengan penerimaan masyarakat baik secara nominal maupun volume masing-masing 290% yoy dan 326% yoy.
"Bank Indonesia terus mendorong inovasi sistem pembayaran serta menjaga kelancaran dan keandalan sistem pembayaran," tandas Perry.

Share this article
Ketua Perhimpunan Bank Nasinal (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, transaksi digital semakin membuat keberadaan atm terancam