BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Desa Cihideung di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dikenal sebagai salah satu sentra penjual bunga dan tanaman hias di Jawa Barat bahkan di Indonesia.
Warganya yang rata-rata berprofesi sebagai petani sekaligus penjual bunga dan tanaman hias ini, kerap memasok produknya ke sejumlah wilayah di Indonesia. Bunga-bunga seperti jenis Mawar, Karnesen, Snapdragon dan jenis bunga lainnya dapat dijumpai di kawasan Agrowisata Cihideung ini.
Namun, sejak wabah Corona Virus Diseas atau Covid-19 masuk ke Indonesia, para petani bunga ini kehilangan pangsa pasarnya. Bahkan para petani harus menanggung kerugian puluhan bahkan ratusan juta rupiah setiap bulannya.
Seperti Dede Widarman (32), salah satu petani bunga di desa Cihideung yang merugi akibat kehilangan pangsa pasar domestik sejak adanya wabah virus corona.
AYO BACA : Banting Stir Jadi Perajin Masker, Pelaku UMKM Ini Raup Untung dari Wabah Corona
"Kalau untuk Cihideung, pasar bunga paling besar itu Jakarta, Jawa dan Bali juga, serta hampir memasok ke seluruh wilayah lainnya di Indonesia, tapi sejak adanya Covid-19 benar-benar mati tidak ada permintaan," ungkapnya saat ditemui di perkebunan bunga di kawasan Cihideung, Senin (20/4/2020).
Dikatakan Dede, saat musim panen tiba, biasanya pengirim bunga kepada pembeli dilakukan dalam waktu dua hari sekali. Namun sejak adanya Covid-19, permintaan pasokan bunga total berhenti dari sejumlah daerah.
Ia pun cukup kesulitan mengakali kondisi pasar saat ini. Sementara perawatan bunga butuh biaya yang tidak sedikit dan jika dibiarkan bunga-bunga akan mati dengan sendirinya.
"Ya kalau sekarang bunga dibiarkan begitu saja di kebun, daripada buat perawatan bunga mending untuk menenuhi kebutuhan sehari-hari saja, ini pun mengandalkan sisa tabungan yang ada," ujarnya.
AYO BACA : Setelah Dipecat Terdampak Covid-19, Khoirul Sukses Jualan Mi Ayam Kemasan
Setiap bulan, lanjut Dede, petani kecil harus menanggung kerugian rata-rata sebesar Rp10 juta. Maka untuk petani besar, kata Dede, kerugian bisa dipastikan mencapai ratusan juta.
"Jarak waktu panen tanaman bunga inikan dua hari sekali, sekali panen untuk petani kecil bisa menghasilkan 30 sampai 40 ikat bunga dengan harga 40 ribu sampai 50 ribu, kalau dikalikan sebulan jelas kerugian sangat besar," terangnya.
Hal senada diungkapkan petani bunga lainnya, Firmansyah (30). Dikatakannya, tanaman bunga yang biasanya dipesan untuk acara pernikahan, perayaan wisudaan dan acara perayaan lainnya, sekarang benar-benar sepi. Bahkan saat mendekati bulan ramadan seperti sekarang ini yang biasanya banjir pesanan, juga sama sepi pemesan.
"Sekarang pasar bunga benar-benar mati, karena kebutuhan bunga ini biasanya buat acara perayaan-perayaan, sementara sekarang, orang-orang jangankan untuk perayaan, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, ditambah lagi untuk acara yang mengundang kerumunan massa tidak boleh," ungkapnya.
Ia berharap, wabah Covid-19 bisa segera berakhir agar pasar bunga bisa kembali normal seperti biasanya. "Semoga wabah ini cepat berakhir, karena imbasnya bukan kepada para petani bunga saja tapi juga ke semua lapisan masyarakat," pungkasnya. (Tri Junari)
AYO BACA : Imbas Corona, Omzet Usaha Sepatu di Cibaduyut Turun 100%

Share this article
Sejak wabah Corona Virus Diseas atau Covid-19 masuk ke Indonesia, para petani bunga ini kehilangan pangsa pasarnya.