BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Sudah beberapa pekan ke belakang, salah satu bengkel sepatu di Cibaduyut, Kota Bandung, sepi dari aktivitas produksi. Hal ini terjadi karena menurunnya pesanan sepatu dan sandal yang biasa diproduksi setiap pekannya.
Pemilik usaha sepatu, Nisa, menuturkan tahun ini menjadi tahun yang cukup berat bagi dia dan keluarganya. Sebab, usaha sepatu yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu, mengalami penurunan omzet hingga 100%, di mana saat ini Nisa tidak mendapatkan pesanan sepatu dan santal sama sekali.
“Untuk penurunan omzet jalas ada penurunan. Apa lagi kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata Nisa kepada Ayobandung.com, jaringan AyoMedia, Sabtu (18/4/2020).
Biasanya, ungkap Nisa, dua bulan menjelang Ramadan, bengkel sepatu miliknya sudah kebanjiran pesanan dari berbagai wilayah di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, setiap pekannya, perajin di bengkel sepatu Nisa bisa memproduksi sepatu dan sandal hingga puluhan kodi.
AYO BACA : Jelang Ramadan, Penjualan Peci Legendaris M Iming Anjlok
“Tahun sebelumnya tuh, dua bulan sebelum puasa udah ramai banget yang datang ke rumah buat nyari barang untuk dijual lagi. Belum lagi pelanggan tetap yang ada dari Sumatera, dari Jateng, Kalimantan juga itu biasanya order by phone nanti dikirim pakai kargo,” ungkapnya.
Kini, sudah sepekan menjelang Ramadan, belum ada satu pun pelanggan yang memesan sepatu atau sandal ke toko sepatu miliknya. Hal ini disinyalir karena para pelanggan tetapnya tidak ingin mengambil risiko jualannya tidak laku karena virus corona.
“Nah sekarang itu gak ada sama sekali, yang di rumah pun yang biasanya datang ke bengkel pun gak ada yang beli,” terangnya.
Sepinya pesanan, membuat Nisa harus mengurangi aktivitas produksi, yang berdampak pada pemotongan memotong upah dari tujuh perajin sepatu miliknya. Dia merasa hal ini merupakan jalan terbaik untuk meminimalisasi kerugian yang lebih parah lagi.
AYO BACA : Cek Legalitas IMEI Ponsel, Begini Cara Mudahnya
“Kalau di sini kan sistemnya bukan perbulan dapat gaji, tapi pegawai itu dalam satu minggu bisa nge-beresin berapa kodi sandal. Kalau misalnya dapet 20 kodi nanti ada harga persatu kodinya dikasih upah berapa. Jadi untuk memiminalisasi kerugian memang load-nya yang dikurangi, karena mau gimana lagi karena memang barangnya gak jalan, kita juga gak dapat income sama sekali,” jelas Nisa.
Selain pesanan yang sepi, Nisa juga sudah mulai kesulitan mendapatkan bahan baku sepatu dan sandalnya sejak beberapa bulan lalu. Sebab, sudah banyak toko bahan baku langganannya yang tutup sebagai dampak dari wabah corona ini.
“Dari bahan juga jadi susah, toko-toko bahan juga pada tutup, belum lagi yang bahannya impor dari luar negeri kan emang agak susah juga. Toko bahan di Cibaduyut tuh udah pada tutup. Jadi kita mau produksi juga bahannya gak ada, sedangkan stok sandal juga jadi numpuk karena gak terdistribusikan,” ujarnya.
Nisa mengaku dia dan keluarganya tidak siap dengan kondisi saat ini. Sehingga dia juga tidak memiliki antisipasi apa pun untuk menghadapi masalah ini, terkecuali dengan mengurangi bahkan menghentikan aktivitas produksi sampai waktu yang belum bisa ditentukan.
“Sebetulnya dari kami gak ada antisipasi yang gimana-gimana, nothing to do lah istilahnya karena emang gak ada antisipasi dari pemerintahnya juga. Pemerintah kan kita tahu dari media penangananya tidak antisipatif dari awal, atau bisa dibilang juga telat,” tegasnya. (Vina Elvira)

Share this article
Sudah beberapa pekan ke belakang, salah satu bengkel sepatu di Cibaduyut, Kota Bandung, sepi dari aktivitas produksi.