BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Penjualan kopiah M Iming menjelang Ramadan tahun 2020 anjlok akibat pandemi Covid-19. Penerus generasi keempat Toko Peci M Iming Ella Has mengatakan, biasanya sebulan menjelang Ramadan permintaan bisa mencapai 1 juta kodi per bulan. Namun, saat ini permintaan sangat sepi akibat pandemi Covid-19.
"Biasanya orang-orang dari luar Kota Bandung ke sini membeli grosiran, tapi sekarang sepi," katanya saat ditemui Ayobandung.com, jaringan AyoMedia, di Toko Peci M Iming Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Jumat (17/4/2020).
Ella pun memprediksi penjualan saat Ramadan hingga Idulfitri tidak sekencang tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 10 juta kodi. Kondisi ini merupakan kali pertama dialami Toko Peci M Iming.
"Sekarang tidak tahu (penjualan), karena bulan sekarang saja sudah sepi yang mestinya panen," katanya.
Saat ini pihaknya masih memiliki stok bahan yang harus diproduksi di gudang. Oleh karena itu, produksi kopiah akan tetap dilakukan. Strategi penjualan kepada konsumen pun akan disesuaikan.
"Belum dihitung stok di gudang, tapi yang pasti kami tetap produksi. Sebab, kami tidak ingin melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap perajin dan pegawai di toko yang sudah puluhan tahun," ujarnya.
Pihaknya akan menjajal penjualan secara daring guna memasok kebutuhan agen di beberapa daerah seperti Majalengka, Sumedang, Garut, dan beberapa daerah lainnya di Jabar.
"Sekarang kami terus menelepon pelanggan apakah mau dikirim atau tidak ke daerahnya, di samping mempersiapkan penjualan online," katanya.
AYO BACA : Penjualan Menurun Drastis, Pengusaha Simping Terpaksa Rumahkan Karyawan
Di samping itu, dia mengharapkan, pemerintah mempercepat realisasi insentif kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar bisa terangkat kembali di tengah pandemi Covid-19.
"Harapannya juga pandemi segera berakhir, karena kasihan para karyawan," ujarnya.
Sementara itu, pegawai Peci M Iming yang telah mengabdi 60 tahun di toko Jalan Ahmad Yani, Eman (70) mengatakan, dalam sehari, peci yang terjual hanya 3-5 peci.
"Kalau menjelang Ramadan mah ramai biasanya. Sekarang paling banyak 5 pcs, kadang juga tidak ada yang beli sehari," ujarnya.
Sejarah Peci M Iming
Kisah dimulai ketika Kota Pekalongan dilanda perang pada pertengahan tahun 1890. Tragedi yang menyeret serta segenap penduduk kota mengungsi ke berbagai daerah di Pulau Jawa, tidak terkecuali Bandung.
Dari sekian banyak pengungsi, terselip satu pria lajang bernama Usman. Seorang pria biasa yang tidak pernah menyangka bila kelak menjadi orang tua dari tokoh legendaris fesyen Indonesia bernama Iming.
Iming atau lebih dikenal dengan Mas Iming lahir di Bandung sesaat setelah kedua orang tuanya memutuskan menikah. Ibunda Iming adalah seorang perempuan berlatar garis keturunan berdarah biru asal Subang.
AYO BACA : Sepi Pesanan, Pengusaha Konfeksi Banting Setir Produksi APD
Keluarga Iming mampu menyambung hidup dengan penghasilan yang didapat dari bisnis telur asin di kawasan Groote Postweg atau kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani.
Singkat cerita, Iming kecil dididik dengan nilai kejujuran dan kerja keras. Sebuah alasan yang melatarbelakangi Iming dewasa memilih bekerja mandiri sebagai bell boy di salah satu hotel melati di kawasan Pasar Baru.
Tidak terelakan bila pesona Iming mengaburkan logika sehingga memikat putri mahkota sang pemilik hotel bernama Ningsih. Cinta dipertemukan dan keduanya menikah pada awal tahun 1900.
Setelah menikah, Iming segan meneruskan bisnis hotel milik mertuanya. Lantas Iming lebih memilih berjuang sendiri dengan belajar menjahit peci dari kakak kandung Ningsih, Tayubi.
Tayubi memang lebih dulu menggeluti bisnis peci dan biasa berjualan di kawasan Pasar Baru. Saat itu, Pasar Baru belum dibangun maka aktivitas perdagangan dilakukan di sepanjang pelataran jalan dengan mendirikan kedai kecil atau jongko.
Namun Tayubi justru memilih pensiun dini dari bisnis peci dan beralih profesi menjadi musisi violin. Tidak demikian dengan Iming yang tetap melanjutkan kreasi dan menyambung hidup melalui produksi peci.
Iming memang memiliki teknik tersendiri dalam setiap peci yang dibuatnya. Inovasi tersebut tersaji melalui pola jahitan yang variatif pada bagian dalam peci. Kreasi tersebut menghadirkan kenyamanan karena peci terasa lebih ringan saat dipakai.
Nyatanya pola tersebut kini menjadi standar dasar pembuatan peci di Indonesia. Naik turun prestasi omzet dilalui Iming. Hal itu tidak serta-merta membuat Iming menyerah dan berpulang pada bisnis hotel milik mertuanya atau usaha telur asin keluarganya.
Ketekunan Iming membuahkan hasil. Setidaknya pada tahun 1912 Iming memberanikan diri untuk membuka toko peci sendiri di atas tanah warisan keluarga di kawasan Simpang Lima Jalan Ahmad Yani dengan nama M Iming. Modalnya, hanya satu mesin jahit.
Maka tidak heran bila banyak tokoh besar menggunakan peci M Iming semisal Presiden Indonesia pertama Soekarno, para Wali Kota Bandung seperti Dada Rosada dan Ridwan Kamil hingga almarhum Kang Ibing. (Kavin Faza)
AYO BACA : Upaya Pelaku Usaha Untuk Tetap Bertahan dan Bangkit di Tengah Pandemi COVID-19

Share this article
Penjualan kopiah M Iming menjelang Ramadan tahun 2020 anjlok akibat pandemi Covid-19.