JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Perilaku emas sebagai komoditas antiresesi kembali terbukti di tengah hiruk pikuk lesunya bisnis dan roda ekonomi serta gejolak pandemik virus corona saat ini.
Tren masyarakat sekarang ramai berbondong-bondong melakukan transaksi emas, baik yang menjual maupun yang membeli dengan harapan kenaikan harga emas di tengah prospek melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS.
“Ini bukanlah hal yang baru (kenaikan harga emas -red). Dari masa ke masa, emas selalu dipercaya masyarakat dunia sebagai investasi yang secara konsisten memberikan keuntungan yang luar biasa di saat terjadi gejolak ekonomi,“ kata CEO Sehatgold, Denny Ardhiyanto dalam keterangannya di Jakarta.
Dia mengatakan, gejolak ekonomi sebenarnya sudah mulai terjadi beberapa bulan sebelum pandemik COVID-19. Beberapa insiden telah memicu sentimen negatif pasar, seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China, ketegangan Amerika dan Iran.
“Selain itu, COVID-19 melengkapi sentimen negatif tersebut sebagai hantaman terakhir terhadap ekonomi dunia,” jelasnya lebih lanjut.
Menurut dia, setiap kejadian yang menakutkan pasar dunia semakin mendorong pelaku pasar untuk meninggalkan aset lainnya seperti pasar modal dan pasar uang dan masuk ke dalam pasar emas. Hal inilah yang telah mendorong harga emas secara spektakuler. Harga emas telah naik sebesar 20 persen pada kuarter pertama tahun 2020 dan jika ditarik lebih lanjut semenjak pertengahan tahun 2019, kenaikan harga emas telah mencapai 50 persen.
Ardhiyanto yakin emas akan masih berpotensi naik dalam jangka waktu dekat. Pandemik COVID-19 adalah krisis kesehatan dengan skala yang tidak pernah terjadi dalam sejarah kebudayaan manusia modern.
“Pandemik ini mirip dengan pandemik Flu Spanyol di tahun 1918 dan itu terjadi seratus tahun yang lalu. Karena skalanya yang luar biasa ini, ahli ekonomi dari seluruh dunia masih belum dapat memperkirakan secara pasti bagaimana dan kapan pandemik ini akan selesai. Ketidakpastian ini yang masih akan mendorong pelaku pasar untuk bertahan di komoditas emas, “ katanya.

Share this article
Tren masyarakat sekarang ramai berbondong-bondong melakukan transaksi emas, baik yang menjual maupun yang membeli dengan harapan kenaikan harga emas di tengah prospek melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS.