Alasan PT Pertamina Menaikan Harga Pertamax Turbo jadi Rp17.900 per Rabu 3 Agustus 2022

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 22:15 WIB
Alasan PT Pertamina Menaikan Harga Pertamax Turbo (Foto: Humas Pertamina)
Alasan PT Pertamina Menaikan Harga Pertamax Turbo (Foto: Humas Pertamina)

AYOJAKARTA.COM - PT Pertamina memutuskan untuk menaikan harga Pertamax Turbo pada Rabu tanggal (3/8/2022).

Kenaikan harga Pertamax Turbo ini disebabkan karena adanya penyesuaian harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price ( ICP ).

Harga ICP sendiri per bulan Juli 2022 saat ini kisaran mencapai USD 106 per barrel atau lebih tinggi ketimbang pada awal tahun lalu.

Baca Juga: YLKI Soal Rencana Pemerintah Hapus Premium: Kendaraan di Jakarta Memang Harusnya Pakai Pertamax

Dilansir AyoJakarta.com dari Suara.com pada Rabu 3 Agustus 2022, dengan dinaikannya Pertamax Turbo berdampak juga dengan kenaikan Dexlite dan Pertamina Dex. 
 
Tiga jenis BBM tersebut merupakan BBM non-subsidi yang harganya sangat fluktuatif mengikuti harga terkini dari minyak dan gas global.
 
Beriringan dengan adanya kenaikan ini, maka Pertamax Turbo (RON 98) dijual seharga Rp17.900 per liter, Pertamina Dex (CN 53) menjadi Rp 18.900 per liter, dan Dexlite (CN 51) dihargai 17.800 per liter.
 
 
Dua BBM lain yakni Pertamax (RON 92) dan Pertalite masih dalam harga yang sama masing-masing Rp12.500 per liter dan Rp7.650 per liter.

Di tengah terus naiknya harga BBM non-subsidi, pemerintah berupaya membuat sistem agar BBM subsidi dapat disalurkan dengan tepat sasaran.
 
Pemerintah lewat Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat setidaknya ada 7 juta unit mobil yang tak boleh pakai pertalite.
 
 
Ada lebih dari jutaan mobil yang dilarang sepenuhnya menggunakan bahan bakar minyak atau BBM yang bersubsidi, bukan hanya pertalite. Jenis mobil yang tidak boleh memakai pertalite adalah jenis mobil yang memiliki kapasitas mesin 1.500 - 2.000 cc.
 
Dengan kapasitas mesin seperti itu seharusnya mobil-mobil itu bisa terbilang mahal, dan orang yang bisa membeli mobil mahar seperti itu seharusnya menyiapkan uang untuk membeli bahan bakar atau BBM non-subsidi.
 
Aplikasi My Pertamina berfungsi untuk penyaluran BBM bersubsidi dengan lebih tertutup dan bisa lebih tepat sasaran terhadap penggunanya.
 
 
Penyaluran yang tepat sasaran ini juga berkaitan dengan ketersedian pertalite. Karena tahun ini Pemerintah berusaha Mendistribusikan 23,5 juta per kilo liter Pertalite ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. 
 
Perkiraan dari BPH Migas jika konsumsi Pertalite naik 10% maka dari itu jumlah Pertalite yang dibutuhkan adalah 25 juta kilo liter. Bila kenaikannya 20% kebutuhannya akan mencapai 28 juta kilo liter. Jumlah ini tentunya sangat jauh di atas pasokan Pertalite yang dialokasikan. Maka dari itu untuk distribusinya sangat perlu sekali di kontrol.
 
Nah, itulah informasi mengenai kenaikan BBM di Indonesia. Semoga bermanfaat!*** (Sandi Pradana Sulaeman)

Editor: Desi Kris

Sumber: suara.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Simak Curahan Hati Mp Ambarita Saat Maxi Day 2022

Sabtu, 24 September 2022 | 06:20 WIB

Intip Keseruan Maxi Day 2022 di Cisarua Bogor

Rabu, 14 September 2022 | 14:26 WIB
X