AYOJAKARTA.COM -- Dalam beberapa hari terakhir isu stunting menjadi bahan pembicaraan publik.
Sebenarnya apa sih stunting itu dan apa ciri-ciri anak yang mengalami stunting. Apakah jika si anak memiliki badan yang pendek bisa dikatakan mengalami stunting?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Stunting dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan produktivitas anak di masa depan.
Baca Juga: Membaca Kepribadian Seseorang dari Bentuk Kaki, Coba Perhatikan Jempolnya
Ciri-ciri stunting pada anak dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri-ciri fisik dan ciri-ciri non-fisik.
Ciri-ciri fisik
- Tubuh anak pendek dibandingkan dengan anak seusianya.
- Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya.
- Pertumbuhan gigi terlambat.
- Berat badan anak tidak naik bahkan cenderung menurun.
- Perkembangan tubuh anak terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan).
Ciri-ciri non-fisik
- Pertumbuhan melambat.
- Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya.
- Anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya.
- Anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.
Stunting dapat menyebabkan berbagai dampak negatif pada anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dampak jangka pendek
- Anak lebih rentan terhadap penyakit infeksi.
- Anak memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kematian.
- Anak memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan kronis di masa dewasa, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker.
Dampak jangka panjang
- Anak memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah.
- Anak memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah.
- Anak memiliki produktivitas yang lebih rendah.
- Anak memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kemiskinan.
Pencegahan stunting
Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%. Hal ini berarti, satu dari lima anak di Indonesia mengalami stunting.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan produktivitas anak di masa depan.
Berdasarkan hasil penelitian, stunting dapat dicegah dan ditanggulangi dengan 10 cara berikut:
1. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah
Ibu hamil yang anemia berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). BBLR merupakan faktor risiko stunting. Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia.
Baca Juga: 5 Tanda Kamu Memiliki Ikatan Batin dengan Seseorang, Pernah Merasakannya?
2. Pemberian makanan tambahan ibu hamil
Ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Asupan gizi yang cukup dapat membantu mencegah stunting pada bayi.
3. Pemenuhan gizi
Anak-anak, terutama balita, membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal. Asupan gizi yang cukup dapat diperoleh dengan mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang.
4. Persalinan dengan dokter atau bidan ahli
Persalinan yang tidak aman dapat menyebabkan bayi mengalami trauma lahir. Trauma lahir merupakan faktor risiko stunting. Oleh karena itu, penting untuk melahirkan dengan dokter atau bidan ahli.
5. IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
IMD merupakan pemberian ASI kepada bayi dalam 1 jam pertama setelah lahir. IMD dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan mencegah stunting.
6. Berikan ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi. ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal. Oleh karena itu, penting untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan.
7. Berikan makanan pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan hinggga 2 tahun
Setelah usia 6 bulan, bayi membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MPASI yang diberikan harus mengandung berbagai macam makanan bergizi.
8. Berikan imunisasi dasar lengkap dan vitamin A
Imunisasi dasar lengkap dapat membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Penyakit infeksi merupakan faktor risiko stunting. Oleh karena itu, penting untuk memberikan imunisasi dasar lengkap dan vitamin A kepada bayi.
9. Pantau pertumbuhan balita di posyandu terdekat
Petugas kesehatan di posyandu dapat melakukan pemantauan pertumbuhan balita. Pemantauan pertumbuhan balita penting untuk mendeteksi stunting sejak dini.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Ada 1 Motor yang Paling Berbeda di Gambar Ini, Apakah Kamu Melihatnya?
10. Lakukan perilaku hidup bersih dan sehat
Perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, dapat membantu mencegah infeksi. Infeksi merupakan faktor risiko stunting.
Dengan menerapkan 10 cara tersebut, stunting dapat dicegah dan ditanggulangi. Stunting merupakan masalah yang kompleks yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan swasta.

Share this article
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai