AYOJAKARTA.COM – Dalam interaksi sosial yang berisi individu dan tujuan berbeda, orang toxic terkadang menerapkan Social Demolitionist kepada sasarannya.
Social Demolitionist menurut perspektif psikologi merupakan teknik yang biasa digunakan para manipulator dengan melibatkan lingkungan sosial.
Tujuan Social Demolitionist selain untuk meruntuhkan psikologis dan rasa tak berdaya juga untuk membuat korban menjadi terisolasi dan tak berharga.
Menjadi salah satu strategi psikologi yang sangat gelap, penting bagi setiap individu khususnya pemilik rasa empati untuk memahami bentuk-bentuk Social Demolitionist.
Dengan mengetahui bentuk Social Demolitionist, kesempatan individu untuk menjaga kesehatan mental akan semakin optimal.
Bentuk pertama adalah Public Humiliation atau Penghinaan Publik, merupakan strategi yang dipergunakan para manipulator untuk mempermalukan korban di tempat umum.
Dalam menjalankan praktiknya, para manipulator biasanya akan mengungkit kesalahan korban di ruang publik untuk menghancurkan kepercayaan diri.
Bentuk kedua strategi psikologi gelap Social Demolitionist yang biasa dilakukan para manipulator adalah Isolation atau Isolasi.
Baca Juga: Edukasi Psikologi: 11 Tanda Kelelahan Mental dan Cara Mengatasinya
Tujuan dari memisahkan dan mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya adalah agar tak mendapat dukungan ataupun bantuan.
Tanpa adanya bantuan dan dukungan sosial, korban akan semakin merasa tak berharga dan hancur dari dalam.
Bentuk ketiga dari Social Demolitionist adalah menerapkan praktik Gaslighting atau membuat korban meragukan tentang realitas hidupnya.
Dalam melakukan praktik Gaslighting, para manipulator biasanya akan mengubah narasi dan membantah ingatan korban.
Baca Juga: Tips Psikologi: Lakukan 2 Cara Mengurangi Rasa Benci pada Diri Sendiri Berikut ini
Bentuk ketiga praktik Social Demolitionist yang biasa dilakukan oleh para manipulator adalah Emotional Manipulation atau Manipulasi Emosional.
Sikap Panas-Dingin atau Peduli-Acuh yang biasa dilakukan oleh para manipulator bertujuan agar korban menjadi merasa tergantung.
Dengan adanya ikatan ketergantungan, para manipulator akan menggunakan ikatan tersebut untuk bisa mencapai keinginannya.
Bentuk Social Demolitionist kelima dan termasuk sebagai paling gelap dalam perspektif psikologi adalah Character Assasination atau Pembunuhan Karakter.
Pembunuhan karakter, tak jarang dilakukan para manipulator untuk memastikan bahwa korban memiliki nilai yang lebih rendah atau inferior.
Dalam menjalankan praktik psikologi gelap ini, para manipulator akan menghancurkan reputasi korban dengan menggunakan fitnah atau kabar buruk.
Kondisi buruk yang dialami korban fitnah, selain akan menghancurkan reputasi dan kebaikan juga menjadikan korban semakin membenci dirinya sendiri.
Kebencian dan segala hal negatif yang secara perlahan ditanam para manipulator akan membuat jiwa seseorang menjadi redup dan mengalami kematian.***

Share this article
Mengenal bentuk social demolitionist, teknik psikologi paling berbahaya yang dapat menghambat pertumbuhan jiwa.