AYOJAKARTA.COM - Bagi sebagian warga Jakarta, nama-nama seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, atau Pasar Minggu tentu sudah tidak asing lagi.
Kawasan-kawasan tersebut kini berkembang menjadi pusat permukiman, perdagangan, hingga transportasi.
Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa nama-nama itu ternyata berasal dari hari dalam kalender yang dahulu menjadi jadwal berlangsungnya aktivitas pasar.
Penamaan pasar berdasarkan hari merupakan tradisi yang berkembang sejak masa kolonial.

Pada saat itu, pemerintah menetapkan hari tertentu bagi sejumlah pasar untuk beroperasi atau menggelar aktivitas perdagangan secara rutin.
Seiring berjalannya waktu, nama pasar tersebut melekat dan tetap digunakan hingga sekarang, bahkan menjadi identitas wilayah di Jakarta.
Salah satu yang paling terkenal adalah Pasar Senen di Jakarta Pusat.
Kawasan ini awalnya dikenal sebagai pasar yang ramai beroperasi setiap hari Senin.
Berikut adalah nama-nama Pasar di Jakarta yang menggunakan nama hari dikutip dari akun Instagram @dkijakarta:

1. Pasar Senen
Lokasi pasar Senen sangat strategis dan selalu ramai karena menjadi titik kumpul warga yang mau berpergian ke luar kota naik kereta jarak jauh maupun komuter KRL.
Pasar ini adalah pasar tertua yang ada di Jakarta, dulunya didominasi pedagang Tionghoa yang hanya berdagang setiap hari Senin.
Dibangun pemilik tanah sekaligus arsitek Justinus Vinck.
Dulunya, pasar ini lebih dikenal dengan nama Vincke Passer/ Pasar Vinck oleh orang-orang Belanda.

2. Pasar Selasa
Pasar Selasa kini lebih dikenal dengan nama Pasar Koja di Jakarta Utara.
Pergantian namanya dipicu berbagai faktor, mulai dari mitos hari Selasa adalah waktu yang kurang baik berdagang, hingga oeraturan zaman kolonial agar pedagang tidak saling bersaing.
Sistem ini dianggap memudahkan masyarakat masa itu menyesuaikan jadwal belanja.

3. Pasar Rebo
Lidah masyarakat Betwai lebih mudah menyebut Rebo daripada Rabu.
Kini, bukan hanya pasar, di kawasan tersebut juga berkembang jadi sebuah Kecamatan di Jakarta Timur.
Tahun 1746 silam, konsul luar biasa Dewan Hindia Pieter van den Velde membeli sebidang tanah yang disebut dengan Tandjoeng.
Di tempat itulah digelar pasar seminggu sekali di sisi timur Sungai Ciliwung.
Andries Tesseira, salah satu tuan tanah Ommelanden yang sering belusukan ke tanah-tanah partekelir, menuliskan kesan kunjungannya ke Groneveld Tandjoeng Oost tahun 1792.
"Tandjoeng Oost memiliki tempat tingga yang luas dan sebuah pasar yang diadakan setiap hari Rabu".
4. Pasar Kamis
Di masa kolonial, pasar ini biasa disebut Meester Passer dan aktivitas perdagangannya khusus dibuka dan ramai di hari Kamis.
Saat masa kependudukan Jepang tahun 1942, nama pasar ini diganti menjadi Jatinegara.
Dulunya, pasar ini juga dilalui Trem Batavia.
Tak hanya menyimpan banyak sejarah, Pasar Kamis juga menjadi saksi berkembangnya ekonomi warga di Jatinegara.

5. Pasar Jumat
Awalnya hanya buka di hari Jumat. Seiring berjalannya waktu, nama pasar ini berganti menjadi Pasar Lebak Bulus di Jakarta Selatan.
Namun saat ini pasar tersebut sudah ditutup dan hanya jadi nama jalan saja.
Para pedagangnya direlokasi ke berbagai pasar di sekitarnya.
6. Pasar Sabtu
Pasar Sabtu ini, sekarang lebih dikenal sebagai Pasar Tanah Abang.
Orang Belanda saat itu menyebutnya dengan De Nabang, tapi lidah lokal Betawi menyebutnya jadi Tenabang.
Dulunya pasar ini adalah saingan terkuat Pasar Senen.
Kini, transformasi Pasar Tanah Abang yang dikelola Pemprov DKI Jakarta menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara dan makin lengkap dengan hadirnya Stasiun Tanah Abang.
7. Pasar Minggu
Pasar Minggu berada di kecamatan di Jakarta Selatan dan terkenal sebagai sentra buah.
Mengikuti kebutuhan warganya, pasar ini berkembang menjadi pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan.
Awalnya, Pasar Minggu bernama Tanjung Oost Passer.
Hingga kini, pasar ini masih eksis dan menjadi salah satu pasar penting yang masih terus bertahan di era modern.***

Share this article
Penamaan pasar di Jakarta ini berdasarkan hari merupakan tradisi yang berkembang sejak masa kolonial.