GUYAS, AYOJAKARTA.COM - Presiden Ekuador, Lenín Moreno, mengakui negaranya telah gagal mengatasi krisis kesehatan karena wabah Covid-19. Dalam dua pekan terakhir, setidaknya tercatat 6.700 orang meninggal dunia karena virus corona.
Di kawasan Guayas, fasilitas kesehatan yang tidak bisa menampung para pasien terjangkit virus, akibatnya pasien meninggal di rumah dan dibiarkan berhari-hari. Bahkan jenazah pun hanya bisa dimasukkan dalam kardus sebagai pengganti peti mati.
Nahasnya, negara tersebut juga tidak menanggung biaya korban Covid-19 di rumah sakit swasta, serta mengalami keterbatasan lahan pemakaman. Dalam masa pandemi di kota dengan populasi 2,5 juta penduduk itu, rumah duka kewalahan - sebagian harus tutup sementara karena pekerjanya ketakutan terjangkit virus.
AYO BACA : 4 Hari Berturut-turut, Kasus Corona di Jerman Bertambah 2.458
"Kami sudah melihat orang meninggal di mobil, di ambulans, di rumahnya, di jalanan," kata Katty Mejía, seorang pekerja di rumah duka di Guayaquil, ibu kota negara bagian dan kota terbesar di Ekuador sebagaimana dilansir BBC, Minggu (19/4/2020).
"Salah satu alasan mereka tidak dirawat di rumah sakit karena alasan kekurangan tempat tidur. Jika mereka ke klinik swasta, mereka harus membayar dan tidak semua orang punya uang," katanya.
Kota Guayaquil juga mulai kehabisan ruang untuk menguburkan mayat, memaksa sebagian orang untuk membawa jenazah kerabat ke kota tetangga untuk dimakamkan di sana.
AYO BACA : Dorna Siapkan Opsi MotoGP Digelar Tanpa Penonton
Kebutuhan untuk menguburkan jenazah sangat tinggi hingga sebagian warga menggunakan kotak karton sebagai peti mayat. Narapidana juga membuat peti mati dari kayu.
"Dengan angka yang kita dapat dari Kementerian Dalam Negeri, tempat pemakaman umum, kantor pencatatan sipil dan tim kami, kami sudah menghitung setidaknya 6.703 kematian di Guayas di 15 hari pertama pada April," kata Jorge Wated, kepala Satgas pemerintah.
"Rata-rata mingguan di sini mencapai 2.000. Jadi, kami sudah merekam 5.700 kematian dari biasanya."
Ekuador telah memperpanjang jam malam dan berjanji akan mengetes makin banyak pasien. Tapi bagi warga di Guayaquil yang pernah melihat orang terkasih meninggal dunia, janji itu sudah terlambat.
AYO BACA : NASA Yakin Bumi Kedua Bisa Dihuni Manusia, Setahun di Sana Setara 19,5 Hari

Share this article
Di kawasan Guayas, fasilitas kesehatan yang tidak bisa menampung para pasien terjangkit virus, akibatnya pasien meninggal di rumah dan dibiarkan berhari-hari. Bahkan jenazah pun hanya bisa dimasukkan dalam kardus sebagai pengganti peti mati.