AYOJAKARTA.COM -- Kearifan lokal sejatinya bukan sekadar benda peninggalan masa lalu yang statis, melainkan energi murni yang memberikan denyut nadi bagi identitas sebuah wilayah. Di tengah dekapan perbukitan hijau dan jernihnya aliran sungai yang menghiasi Sumedang, Desa Citengah kini sedang mengukuhkan posisinya sebagai episentrum pertumbuhan budaya.
Melalui sebuah inisiatif pengabdian masyarakat berskala internasional, desa ini bertransformasi menjadi laboratorium kreatif bagi pengembangan desain batik yang ikonik.
Program bertajuk “Diversifikasi Ikonik Kearifan Lokal Desa Citengah dalam Pengembangan Desain Batik untuk Peningkatan Daya Saing Batik Lokal dan Penguatan Desa Wisata” ini merupakan bagian dari agenda bergengsi Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition Program – World Class University (EQUITY - WCU) Universitas Padjadjaran.
Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan, tetapi juga merevitalisasi tradisi melalui sentuhan inovasi kontemporer.
Desa Citengah memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat melimpah, mulai dari lanskap pegunungan hingga nilai-nilai sosial masyarakatnya yang unik. Potensi inilah yang menjadi sumber inspirasi utama dalam penciptaan motif-motif batik baru. Program ini hadir sebagai jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan selera pasar modern.
Melalui pendampingan yang mendalam dan pelatihan kreatif berbasis riset budaya, para pengrajin batik lokal didorong untuk keluar dari zona nyaman.
Mereka diajak untuk mengeksplorasi visual dan menciptakan ikon-ikon baru yang segar namun tetap memiliki akar filosofis yang kuat pada kearifan lokal. Tujuannya jelas: menghasilkan produk batik yang lebih variatif, memiliki karakter kuat, dan mampu bersaing di level internasional.
Keberhasilan program ini berakar pada sinergi yang harmonis antara kalangan akademisi, desainer profesional, dan masyarakat setempat. Diskusi partisipatif menjadi wadah untuk bertukar pikiran, sementara lokakarya desain berfungsi sebagai tempat lahirnya narasi visual baru tentang Citengah.
Hasil dari kolaborasi ini bukan sekadar selembar kain batik, melainkan sebuah cerita tentang alam Citengah, jati diri manusianya, serta visi masa depan desa tersebut. Kegiatan ini berlangsung secara intensif pada tanggal 8 hingga 12 Februari 2026, berpusat di kawasan Wisata Alam Nabawadatala, sebuah lokasi yang sangat mendukung suasana kreatif.
Ketua tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Dr. Taufik Ampera, M. Hum., menekankan bahwa pengembangan desain yang berpijak pada nilai lokal adalah strategi jitu untuk memenangkan persaingan di industri kreatif yang sangat dinamis.
"Batik bukan cuma sekadar komoditas ekonomi, melainkan sarana untuk merepresentasikan jati diri kita. Apabila sebuah motif tumbuh dari akar budaya yang asli, maka kain tersebut akan memancarkan kekuatan cerita yang tidak mungkin bisa digantikan oleh produk mana pun," tegas Dr. Taufik.
Melalui strategi diversifikasi ini, batik Citengah diproyeksikan mampu menjangkau segmen pasar yang lebih luas, memperkokoh citra merek lokal, serta memberikan nilai ekonomi tambah bagi para pengrajin. Ini adalah langkah nyata dalam memberdayakan masyarakat guna mencapai kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya.
Salah satu keunikan utama dari program ini adalah keterlibatan mitra internasional dari Universiti Utara Malaysia (UUM). Kolaborasi ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari kedua negara sebagai bagian dari strategi internasionalisasi universitas dan kontribusi nyata bagi sosial-masyarakat.
Tim dari FIB Unpad dipimpin oleh Dr. Taufik Ampera, M. Hum., dengan anggota Prof. Aquarini Priyatna, Ph.D., Nani Darmayanti, Ph.D., serta Indra Sarathan, M.Hum. Mereka juga didukung oleh lima mahasiswa berprestasi: Dervan Sohibulkahfi Rosadi, Wildan Firmansyah, Rifqi Muhammad Sidiq, Agisni Nurul Azizah, dan Haya Kinarya Wide Kazhimah.
Sementara itu, delegasi dari Malaysia dipimpin oleh Prof. Madya Dr. Hishamudin bin Isam dan Dr. Mohamad Zakuan bin Tuan Ibharim, beserta lima mahasiswa internasional mereka: Siti Nurkhadijah Aisyah Binti Zaharruddin, Murnisha Binti Murugaiah, Umizaharah Binti Ismail, Al-Hariz Bin Hazren, dan Afiq Izzuddin Bin Che Abdullah.
Keterlibatan pihak internasional memberikan perspektif baru dalam desain dan strategi pemasaran. Prof. Madya Dr. Hishamudin bin Isam selaku pendamping dari UUM memberikan apresiasi tinggi terhadap model kolaborasi lintas negara ini.
"Program pengabdian masyarakat internasional ini memiliki nilai yang sangat positif. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi kami untuk bekerja sama dalam menciptakan desain baru yang memadukan unsur dari dua negara, sekaligus membantu masyarakat lokal dalam memperkenalkan batik Citengah ke kancah mancanegara," ungkapnya.
Ia juga menaruh harapan besar agar program serupa dapat terlaksana di Malaysia dengan mengundang tim dari Unpad. Hal ini bertujuan untuk melanjutkan kolaborasi dalam pengembangan kebudayaan secara lebih luas di kawasan Asia Tenggara.

Share this article
Batik Citengah Sumedang kini mendunia! Simak kolaborasi Unpad dan Malaysia dalam mendesain motif ikonik berbasis kearifan lokal.