AYOJAKARTA.COM – Tewasnya Juliana Marins, Pendaki asal Brazil saat melintasi Jalur Neraka di Gunung Rinjani, terus menyisakan persoalan.
Jatuh ke dalam jurang sedalam 600 meter di kawasan yang dijuluki sebagai Jalur Neraka, kematian Juliana Marins di Gunung Rinjani membuat warga Brazil ikut memberikan atensi.
Melalui berbagai platform dan akun media sosial, netizen Brazil mendesak agar kematian Juliana Marins di Gunung Rinjani usai terjatuh di Jalur Neraka segera diselidiki.
Selain mendesak melalui pernyataan, melalui akun media sosialnya netizen asal Brazil juga melakukan hal serupa kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sebelum kecelakaan, wanita yang berprofesi sebagai Pegiat Sosial Media dan Penari ini telah lebih dulu melakukan kunjungan ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
Tiba di Indonesia, Marins memilih Gunung Rinjani sebagai lokasi tujuan mendaki tanpa memperhatikan kondisi kesehatan matanya yang Minus Lima.
Meski sudah diperingatkan oleh sejumlah pihak tentang keunikan Gunung Rinjani, bersama lima pendaki lainnya yang juga berstatus WNA Marins bersikeras dengan niatnya.
Baca Juga: Krisis Lahan, Konsep TOD, dan Kerja Sama Strategis Menjadi 3 Langkah Jakarta Lawan Kemacetan
Berada di Pos Cemara Nunggal, Pemandu mendapati kondisi Marins yang sudah sangat kelelahan; namun tidak bisa mengabaikan keinginan dari lima Pendaki lainnya.
Oleh Pemandu, Marins diminta untuk beristirahat dan menyusul jika kondisinya memang sudah lebih bugar.
Setelah berhasil mencapai puncak Rinjani, Pemandu dan lima pendaki lainnya memutuskan untuk kembali menemui Marins yang juga belum hadir.
Sempat melakukan pencarian, Pemandu segera menghubungi pihak otoritas di Gunung Rinjani setelah mengetahui Marins mengalami kecelakaan.
Untuk melakukan langkah penyelamatan terhadap Marins, sejumlah pihak dari mulai TNI, Polri, Damkar, SAR, BPBD, Medis, hingga Relawan mulai dilibatkan.
Melalui drone milik Pendaki asal Spanyol, lokasi keberadaan Marins sempat diketahui sehingga membuat dunia internasional mulai menyoroti Indonesia.
Menyikapi tekanan dari masyarakat internasional, Menteri Kehutanan Raja Juli Anton memastikan akan mengerahkan segala upaya untuk misi penyelamatan.
Meski didukung dengan berbagai macam perlengkapan, misi penyelamatan tetap gagal dilakukan karena kendala cuaca yang tidak menentu.
Menurut hasil otopsi, penyebab kematian Juliana Marins di Gunung Rinjani lebih disebabkan karena pendarahan bukan hipotermia sebagaimana dituduhkan.
Kematian Juliana Marins di Gunung Rinjani, hingga saat ini masih membuat warganet asal Brazil dan Indonesia terus berseteru.
Setelah sempat menyerang akun milik Pejabat Pemerintah Indonesia, warganet Brazil juga kompak memberikan rating Bintang Satu untuk Gunung Rinjani.
Tidak terima dengan aksi warganet asal Brazil, warganet asal Indonesia balas menyerang Hutan Amazon di Brazil dengan memberikan Bintang Satu. ***

Share this article
Tewasnya Juliana Marins di Jalur Neraka Rinjani picu polemik internasional, netizen Brazil desak investigasi, warganet RI balas serang.