JAKARTA BARAT, AYOJAKARTA.COM -- Masih banyak orang yang kurang memahami pentingnya cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan baik serta benar.
Itulah perlunya sosialisasi dagusibu (dapatkan, gunakan, simpan, dan buang).
Ketua Pengurus Ca bang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Kota Administrasi Jakarta Barat Dra Etty Soehartini Mkes menilai sejauh ini banyak orang yang mengonsumsi obat tidak sesuai aturan yang dianjurkan.
"Cara pemakaian saja juga tidak tahu, misalnya obat diminum tiga kali sehari, kapan itu dan bagaimana caranya, tiga kali apakah setiap habis makan, makannya jam berapa, nah itu sangat berpengaruh," kata Etty kepada Ayojakarta di halaman Museum Fatahillah, Taman Sari, Jakarta Barat, Minggu (1/12/2019).
Melalui sosialisasi dagusibu diharapkan masyarakat lebih banyak mengetahui cara pemakaian obat yang benar.
"Kita kasih tahu bahwa kalau sehari 24 jam andai kata tiga kali sehari satu seharusnya delapan jam, mudah-mudahan seperti itu, itu baru cara pemakaian," harapnya.
Etty merasa ironi tak hanya pemakaian obat yang keliru, bahkan penyimpanan hingga pembuangannya.
"Banyak banget (menyalahgunaan obat). Cara penyimpanan, orang berpikir bahwa cara menyimpan itu adalah di dalam kulkas, tidak semua obat itu harus disimpan didalam kulkas," ujarnya.
Etty menjelaskan, ahli profesi dalam dunia farmasi terbagi dalam beberapa bidang yakni industri, pendistribusian, dan pelayanan.
Di seluruh bidang tersebut, apoteker bertanggung jawab memberikan pembekalan petunjuk baik obat maupun alat-alat kesehatan dari ujung sampai akhir.
"Di pabrik farmasi itu sudah sedemikian rupanya membuat obat mengemas obat, bahkan di kemasan itu ada namanya brosur, nah itu sebetulnya ada manfaatnya apoteker itu membuat itu, bukan hanya sekedar ada lalu dibuang," paparnya.
"Disitu tertulis bagaimana cara menyimpan ini untuk apa gituloh, boleh kok misalnya untuk penderita yang diabet bolehkan untuk ibu hamil, nah banyak hal yang seperti itu," sambungnya.
Etty berharap lebih banyak masyarakat mengetahui dagusibu, terlebih dengan adanya penguatan komitmen antara tim pengurus PKK Jakarta Barat dengan IAI Jakarta Barat yang dikukuhkan dalam acara di halaman Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (1/12/2019).
"Nah itu mulai dari yang kecil kemudian akan kita bekali terus kader-kader ini sampai akhirnya memahami tentang apa yang ada tertera di dalam brosur yang ada di setiap obat," paparnya.
Acara pengukuhan dibuka Wakil Walikota Kota Administrasi Jakarta Barat, Muhammad Zen, hadir juga dalam acara ini Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat drg. Kristy Wathiny, Ketua Tim Pengurus PKK Jakarta Barat Inad Luciawaty, puluhan apoteker cilik dari SD mangga Besar 11 pagi, dan SD Jelambar 03, dan ratusan anggota baik dari Kader PKK maupun apoteker se-Jakarta Barat.
Secara bersinergi, program dagusibu akan disosialisasikan di seluruh kelurahan Jakarta Barat dengan total delapan kecamatan, di mana setiap kecamatannya, IAI Jakarta Barat mewakilkan dua orang anggotanya.
"Cermin dari ingin tahu, cermin dari Training of Trainers yang telah kami lakukan. Jadi ada delapan kecamatan, setiap kecamatan ada dua orang, dari situ kamu tahu sebetulnya ibu-ibu tidak tahu apoteker itu siapa," ujarnya.
"Kemudian kami perkenalkan dan mereka itu antusias banget, bahwa ternyata setiap rumah itu pasti ada obat, dan obat itu apakah rusak terus dimana disimpan, sampai kapan itu tidak diketahui," imbuh Etty.

Share this article
Ketua Pengurus Ca bang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Kota Administrasi Jakarta Barat Dra Etty Soehartini Mkes menilai sejauh ini banyak orang yang mengonsumsi obat tidak sesuai aturan yang dianjurkan.