CIDENG, AYOJAKARTA.COM - Sebanyak 81 warga yang terdampak banjir di Cideng Jakarta Pusat enggan diungsikan. Mereka menginginkan bantuan material bahan bangunan dari pemerintah meski rumah yang mereka tinggali tidak bersertifikat tanah dan bangunan.
Dari pantauan Republika - jaringan Ayojakarta, sebagian warga meninggalkan lokasi pengungsian untuk mencari rumah kontrakan baru.
Upik salah satunya, terdampak yang rumahnya persis di sebelah rumah tempat api berasal, tetap ingin tinggal di bantaran kali itu meski mengakui bahwa rumahnya itu tak memiliki izin maupun sertifikat tanah. Ia mengaku telahb menetap di rumah yang hangus terbakar sejak 1992.
"Kalau ada bantuan, kami minta bantuan material saja untuk membangun rumah kembali. Jangan dipindah ke rusun," kata dia, Selasa (10/11/2020).
Upik menjelaskan, ia tak ingin diungsikan ke rusun lantaran cenderung bertingkat. Ia tak sanggup jika harus naik-turun di usianya yang sudah 48 tahun. "Saya sudah tua," kata Upik.
Ayu (30 tahun), warga terdampak lainnya, juga mengaku enggan direlokasi ke rusun. Padahal, ia selama ini hanya mengontrak di rumah bantaran kali itu dengan biaya Rp 700 ribu per bulan.
AYO BACA : Hari Pahlawan, Gulkarmat Jaktim Nyalakan Sirine dan Ajak Warga Mengheningkan Cipta
Ayu beralasan karena sudah terlanjur nyaman tinggal di rumah bantaran kali itu. Selain itu, ia juga takut bakal terbeban biaya sewa rusun.
"Ya kita kan ekonominya susah. Saya takut nggak sanggup bayar bulanannya," kata Ayu yang suaminya bekerja sebagai pengumpul barang-barang bekas itu.
Ketua Karang Taruna RW 07 Kelurahan Cideng, Bernanda mengatakan, Dinas Sosial hanya memberikan izin penggunaan sekolah sebagai tempat pengungsian hingga Jumat (13/11/2020). Selaku penanggung jawab posko pengungsian, Bernanda belum mengetahui cara menampung para pengungsi selanjutnya.
"Persoalan ini masih dibicarakan Ketua RW dan Lurah," kata Bernanda.
Sejumlah warga mengatakan, setelah minggat dari posko pengungsian, mereka hendak mencari rumah kontrakan di sekitar kawasan itu.
Kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Jalan Raya Tanjung Selor, Kelurahan Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, pada Sabtu (7/11/2020) sore. Akibatnya, 20 rumah hangus, 40 KK (200 jiwa) terdampak dan sedikitnya 81 orang mengungsi.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengatakan, kebakaran itu menghanguskan area dengan luas sekitar 480 meter persegi. Total kerugian diperkirakan sekitar Rp 1,44 miliar.
AYO BACA : Kebakaran di Cideng, 81 Orang Mengungsi dan Kerugian Rp1,4 Miliar

Share this article
Upik salah satunya, terdampak yang rumahnya persis di sebelah rumah tempat api berasal, tetap ingin tinggal di bantaran kali itu meski mengakui bahwa rumahnya itu tak memiliki izin maupun sertifikat tanah. Ia mengaku telahb menetap di rumah yang hangus terbakar sejak 1992.