AYO BACA : Daftar Lengkap Kasus Pasien 1 hingga 27 Positif CoronaAYO BACA : Alasan Imported Case Corona Lolos di Bandara
JAKARTA, AYOJAKIARTA.COM - Pada Sabtu (29/2/2020), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menolak status pandemi pada corona, meski saat itu sudah menewaskan hampir 2.900 jiwa, menjangkit 53 negara, dan menginfeksi hampir 8.300 jiwa lebih. Padahal, WHO meningkatkan status bahaya corona menjadi 'sangat tinggi', dan diprediksi akan menjangkit lebih banyak lagi.
Dua hari berselang dari pengumuman WHO, Indonesia mengumumkan dua kasus perdana Covid-19 yang menjangkit WNI pada Senin (2/3/2020). Lonjakan dramatis diumumkan Senin (9/3/2020), dengan 13 kasus baru. Hanya rentang seminggu dari kasus pertama dan kedua. Kini, per Selasa (10/3/2020) total kasus di Indonesia menjadi 27 pasien yang positif, meski 2 dinyatakan sembuh, yakni pasien 6 dan pasien 14.
Percepatan penyebaran corona di dunia tak bisa dibendung. Dikutip dari worldometer, setidaknya hingga Selasa (10/3/2020) sudah ada 113.582 infeksi dengan 3.996 kematian yang terjadi, dan 62.512 atau sekitar 55,04 pasien dinyatakan sembuh. Semua kasus tersebut terjadi di 115 negara.
Bagaimana Indonesia Bergerak?
Pemerintah berkejaran dengan waktu untuk melacak jejak kontak yang pernah dilakukan pasien positif corona (Covid-19). Tracing atau pelacakan, disebut sebagai senjata utama pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19 semakin meluas.
Pelacakan berfungsi untuk mendata siapapun yang pernah melakukan kontak dengan seluruh pasien positif Covid-19 dan memastikan mereka dalam kondisi sehat. Bila ada gejala ke arah penyakit tersebut, maka tindakan medis segera dilakukan.
"Tracing menjadi penting karena kebanyakan masuk itu, karena kebanyakan ini menular dekat," ujar Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto di Kantor Presiden, Selasa (10/3/2020).
Pelacakan, ujar Yuri, juga bertujuan agar siapapun pihak yang berada dalam jejak kontak dan diketahui menunjukkan gejala Covid-19 bisa segera diisolasi. Tindakan ini dilakukan demi menghentikan penyebaran virus tersebut.
"Kalau tidak begitu, dia akan menjadi sebaran masyarakat sekitar situ. Yang kita kejar betul tracing. Lebih baik dengan cara tidak terbuka karena nanti kabur (pasien terduga Covid-19)," jelas Yuri.
Selain pelacakan, pemerintah juga memperketat pengawasan di pintu masuk kedatangan internasional. Pemeriksaan dilakukan dengan mengecek suhu tubuh setiap penumpang dan pengisian Health Alert Card.
"Ini menjadi penting karena banyak sekali yang masuk dalam keadaan gejala yang minimal," jelasnya.
AYO BACA : Bertambah, 8 Kasus Baru Pasien Positif Covid-19
Share this article
Pelacakan berfungsi untuk mendata siapapun yang pernah melakukan kontak dengan seluruh pasien positif Covid-19 dan memastikan mereka dalam kondisi sehat. Bila ada gejala ke arah penyakit tersebut, maka tindakan medis segera dilakukan.