JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengatakan, penutupan sejumlah pelabuhan di Tiongkok menjadi masalah bagi kondisi logistik di Indonesia. Dalam melindungi dan mencegah wabah korona kian meluas, Tiongkok menutup akses keluar masuk barang di pelabuhan.
Adhi mencatat, nilai impor produk olahan makanan dan minuman dari Tiongkok mencapai 850 juta dollar Amerika pertahun. Sementara, produk hortikultura nilainya sebesar 1,4 miliar dollar Amerika. Jumlah tersebut bukan angka yang kecil bagi Indonesia untuk menggantungkan kebutuhan pada bahan baku dari Tiongkok. Dengan begitu, tentu menjadi sebuah masalah bagi Indonesia jika pengiriman barang dari Tiongkok terganggu.
AYO BACA : PDEI: Indonesia Masih Bebas Korona
"Hanya saja sekarang ini yang jadi masalah adalah logistik dan juga penutupan fasilitas pelabuhan di Tiongkok. Nah kita harus antisipasi itu," ujarnya saat menghadiri diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2/2020).
Dia menambahkan, saat ini perlu ada peningkatan kerja sama antara pemerintah dengan pengusaha untuk mengatasi ketergantungan impor dari Tiongkok.
AYO BACA : Benarkah Indonesia Bebas Korona?
"Dikolaborasikan dunia usaha dan Pemerintah. Jangan sampai berjalan sendiri-sendiri, semua pihak harus berkolaborasi," tuturnya.
Ia menilai, ketergantungan Indonesia terhadap impor makanan dan minuman dari Tiongkok cukup tinggi. Meski begitu, mewabahnya virus korona tidak memengaruhi produk makanan yang dikirim dari Tiongkok.
"Jadi kalau kita bicara makanan minuman, memang kita masih banyak impor dari sana (Tiongkok). Tapi virus ini tidak ada pengaruhnya terhadap produk makanan-minuman," jelasnya.
AYO BACA : Jakarta Tingkatkan Kewaspadaan Atas COVID-19, Anies Terbitkan Ingub 16/2020

Share this article
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengatakan, penutupan sejumlah pelabuhan di Tiongkok menjadi masalah bagi kondisi logistik di Indonesia. Dalam melindungi dan mencegah wabah korona kian meluas, Tiongkok menutup akses keluar masuk barang di pelabuhan. Adhi mencatat, nilai impor produk olahan makanan dan minuman dari Tiongkok mencapai 850 juta Dollar Amerika pertahun. Sementara, produk hortikultura nilainya sebesar 1,4 miliar Dollar Amerika. Jumlah tersebut bukan angka yang kecil bagi Indonesia untuk menggantungkan kebutuhan pada bahan baku dari Tiongkok. Dengan begitu, tentu menjadi sebuah masalah bagi Indonesia jika pengiriman barang dari Tiongkok terganggu.