JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Untuk mengurangi curah hujan ekstrem di Jakarta dan sekitarnya, belakangan ini pemerintah melakukan modifikasi cuaca.
Operasi modifikasi cuaca dikerjakan bersama oleh Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) BPPT, Tri Handoko Seto, menegaskan, TMC tidak bertujuan menghilangkan hujan di Jabodetabek. TMC hanya untuk mengurangi curah hujan demi mencegah banjir terjadi di wilayah itu.
Operasi TMC dilakukan ketika awan-awan yang tumbuh di Selat Sunda dan Laut Jawa diperkirakan bisa menimbulkan banjir.
"Jika diyakini aman, maka operasi TMC tidak dilakukan," kata Tri Handoko, kepada wartawan, Jumat (24/1/2020).
Ekskalasi operasi TMC benar-benar didasarkan pada tingkat ancaman banjirnya. Ketika keberadaan awan hujan yang bisa menimbulkan banjir dianggap kuat, maka operasi TMC akan dilakukan dengan empat sorti penerbangan.
"Tanggal 13 dan 14 Januari kami tidak melakukan operasi TMC karena tidak ada ancaman banjir," kata Tri Handoko menjelaskan.
Kepala BPPT, Hammam Riza, menjelaskan, lokasi operasi TMC berkaitan dengan datangnya awan. Bila ada awan yang datang maka pesawat langsung terbang untuk melakukan penyemaian garam untuk mencegah awan tersebut menurunkan hujan di Jabodetabek.
Pengalaman BPPT bekerjasama dengan BNPB dan TNI pada 2013-2014, modifikasi cuaca mampu mengurangi curah hujan hingga 30-40 persen.

Share this article
Operasi TMC dilakukan ketika awan-awan yang tumbuh di Selat Sunda dan Laut Jawa diperkirakan bisa menimbulkan banjir.