JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Ladang cabai, gambas, sawi, dan lain-lain, tentu tidak muncul begitu saja dari dalam tanah atau turun dari awan. Penggagas perladangan KBB Kali Ciliwung adalah Andiya, lelaki kelahiran Cirebon, 49 tahun lalu.
“Dulu, banyak sekali limbah rumah tangga di tepian sungai. Waktu itu saya berpikir, kira-kira apa yang akan membuat orang-orang enggan membuang sampah ke sungai? Saya dapat ide untuk membersihkan dan menanam apapun yang bisa tumbuh di pinggir sungai,” kata Andiya.
Selama satu bulan, Andiya dan beberapa orang tetangganya secara swadaya membersihkan tepian sungai dari sampah dan tanaman liar. Bermodalkan peralatan seadanya, lahan yang tadinya tidak produktif pun berubah menjadi kebun gambas, cabai, sawi, dan terong yang dipanen secara bergantian.
Hingga kini, Andiya dan delapan orang warga setempat secara telaten merawat ladang seluas lebih dari tiga ribu meter persegi dan menanaminya dengan berbagai sayuran. Biasanya, Andiya menjual hasil bumi ke warga sekitar, Pasar Tanah Abang Blok G, Pasar Inpres Sabeni, dan Pasar Pintu Air Petamburan.
“Kacang panjang yang baru kami panen kemarin, dijual Rp7.000-Rp10.000 per kilogram. Setiap keuntungan yang kami peroleh dibagi sesuai tugas setiap orang, sisanya untuk merawat lahan dan membayar listrik di gubuk,” ujarnya.
Andiya melanjutkan, dulu ia dan rekan-rekan petaninya bekerja serabutan sebagai buruh kasar di pasar atau proyek pembangunan gedung. Kini, pendapatan yang diperoleh dari hasil bercocok tanam dapat dimanfaatkan untuk modal usaha.
“Misalnya, saat panen saya mendapatkan uang Rp500.000, maka saya bisa putar uang itu untuk tambahan modal warung, berjualan mie, atau apa saja asal halal,” katanya.
Bagi Andiya, keuntungan dari berkebun di tepi sungai mungkin tidak seberapa besar dan sangat kurang untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi menurutnya, ada kepuasan batin ketika memberikan hasil panen kepada yang membutuhkan secara cuma-cuma.
“Kami selalu mengatur waktu tanam agar bisa memanen timun suri ketika bulan Ramadhan. Saat panen, kami bagikan timun suri kepada masyarakat yang memanfaatkannya untuk sajian berbuka puasa. Alhamdulillah masih bisa beramal,” Andiya memungkasi kalimatnya.
Bagi Andiya dan para petani kota di BKB Kali Ciliwung, ada banyak hal yang tidak dapat diukur dengan materi. Ia percaya kekuatan doa-doa tulus dari orang-orang yang terbantu dari kegiatan di ladang pertaniannya. Andiya dan petani lainnya berpedoman dalam setiap tindakan untuk tidak sekadar memanen hasil dari bumi tetapi juga mengharap berkah dari langit.

Share this article
Ladang cabai, gambas, sawi, dan lain-lain, tentu tidak muncul begitu saja dari dalam tanah atau turun dari awan. Penggagas perladangan KBB Kali Ciliwung adalah Andiya, lelaki kelahiran Cirebon, 49 tahun lalu.