JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Jika Anda termasuk warga Jakarta yang beberapa hari terakhir kerap merasa udara panas luar biasa, terutama siang hari, ini ada alasan dari fenomena tersebut.
"Secara klimatologis, bulan April-Mei-Juni memang tercatat sebagai bulan-bulan di mana suhu maksimum mengalami puncaknya di Jakarta," kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal, dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2020).
Dijelaskannya, suasana panas umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi disertai kelembapan udara yang rendah, terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan. Sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi.
Berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan-bulan ini disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Transisi musim itu ditandai oleh mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia) terutama di wilayah bagian selatan Indonesia. Angin monsun Australia ini bersifat kering kurang membawa uap air, sehingga menghambat pertumbuhan awan.
Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya inilah yang menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat belakangan ini.
Ditambahkan Herizal, tren suhu udara yang terus meningkat itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak tempat di dunia, yang kemudian dikenal sebagai fenomena pemanasan global. Pemantauan suhu rata-rata secara global menunjukkan hampir tiap tahun tercatat rekor baru suhu tertinggi dunia.
Perlu diketahui juga bahwa Badan Meteorologi Dunia (WMO) dalam rilisnya tanggal 15 Januari 2020 menyatakan bahwa tahun 2019 adalah tahun terpanas ke-2 sejak tahun 1850, setelah tahun 2016.

Share this article
Secara klimatologis, bulan April-Mei-Juni memang tercatat sebagai bulan-bulan di mana suhu maksimum mengalami puncaknya di Jakarta