AYOJAKARTA.COM -- Dalam warisan budaya Arab pada zaman jahiliyah, beredar sejumlah kepercayaan dan mitos. Salah satu di antaranya adalah keyakinan bahwa menikah di bulan Syawal membawa kesialan.
Sebagai akibatnya, dahulu banyak orang yang enggan melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut. Bahkan, hubungan intim pun dihindari, karena dipercaya sebagai dosa besar.
Namun, Islam datang untuk mengubah pandangan tersebut. Nabi Muhammad memilih bulan Syawal sebagai waktu untuk menikahi Aisyah RA, yang kemudian merespons dengan senang dan bahagia atas pernikahan mereka pada bulan tersebut.
Dikutip dari Republika pada Kamis, 11 April 2024, hal ini tercatat dalam hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah pada bulan Syawal, dan malam pertama mereka juga terjadi pada bulan tersebut.
Perubahan ini tidak hanya sekadar menegaskan bahwa pernikahan di bulan Syawal adalah boleh, tetapi juga Islam mengubah tradisi Jahiliyah yang keliru.
Baca Juga: Jessica Wongso Diduga Korban Mafia Hukum, Rismon Sianipar Desak Negara Turun Tangan
Imam Nawawi menjelaskan bahwa lewat hadis tersebut Rasulullah SAW bermaksud menanggapi budaya negatif masa jahiliyah yang menolak pernikahan di bulan Syawal.
Berdasarkan penjelasan Imam Nawawi, keyakinan jahiliyah adalah kebatilan dan tidak memiliki dasar. Pernikahan di bulan Syawal tidak hanya dibolehkan, tetapi juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Ini sejalan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa menikah adalah bagian dari ajarannya, dan siapa pun yang tidak mengikuti sunnah beliau tidak termasuk dalam golongannya.
Dalam literatur lain, seperti kitab 'Hasyiyah Ali al-Durr al-Mukhtar' karya Ibnu Abidin Al-Hanafi, disebutkan bahwa pernikahan di antara Idul Fitri dan Idul Adha tidaklah makruh. Hal ini mengingat Nabi Muhammad SAW sendiri menikahi Aisyah RA pada bulan Syawal dan memulai bahtera rumah tangga mereka pada bulan tersebut.
Baca Juga: Kepribadian Orang Berdasarkan Hari Lahir dari Senin hingga Minggu, Kamu Termasuk yang Mana?
Rasulullah SAW juga memberikan nasihat kepada para pemuda untuk menikah jika sudah mampu, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Bagi yang belum mampu, disarankan untuk berpuasa sebagai bentuk pengendalian diri.
Dengan demikian, sunnah Nabi di bulan Syawal memberikan pemahaman baru bagi kaum jomlo, bahwa pernikahan pada bulan tersebut bukanlah sesuatu yang sial, melainkan bagian dari ajaran yang dianjurkan dalam Islam.

Share this article
Nabi Muhammad memilih bulan Syawal sebagai waktu untuk menikahi Aisyah RA, yang kemudian merespons dengan senang.