JAKARTA TIMUR, AYOJAKARTA.COM -- Berdasarkan keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989, Salak Condet adalah ikon Kota Jakarta. Namun, kini sangat sulit untuk menikmati rasanya yang khas, bahkan, untuk sekedar menemui keberadaannya.
Menanggapi hal itu, ayojakarta.com mencoba untuk menelusuri sebab musabab dari langkanya buah yang memiliki kulit berwarna cokelat dan bersisik seperti ular itu, Minggu (14/7/2019) siang.
Seperti diketahui, saat ini Jakarta telah menjadi wilayah yang teramat padat oleh perumahan penduduk, ditambah lagi, banyak gedung-gedung pencakar langit untuk berbagai keperluan. Sehingga, teramat sulit untuk menemukan lahan kosong demi hadirnya ruang terbuka hijau, apalagi untuk hadirnya kebun yang produktif.
Beruntung, di wilayah Jalan Kayu Manis, RT 7/5, Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur masih dapat ditemui Kebun Cagar Buah Condet sebagai lahan konservasi buah yang memiliki nama ilmiah Salacca Zalacca itu.
Dulu, kawasan itu diketahui memang merupakan sentra buah salak dan beberapa jenis buah tropis lainnya. Bahkan, nyaris setiap keluarga yang tinggal di kawasan ini memiliki "kebun" salak di pekarangan rumahnya.
"Ini kebun salak udah ada sejak dulu. Malah sebelum merdeka juga udah ada. Bedanya dulu semua orang punya kebon salak di sini, sekarang kaga, kata Awi, penjaga Kebun Salak Condet saat ditemui ayojakarta.com.
Pria asli Betawi ini mengisahkan, dulu lokasi kebunnya menjadi satu di antara banyak kebun salak milik keluarga. Namun karena kebutuhan akan lahan untuk rumah, kini lahan kosongnya yang bisa ditanami salak hanya tersisa sedikit. Itu pun telah diambil alih Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta untuk dipertahankan keberadaannya.
"Ini dulunya juga punya beberapa orang . Akhirnya lahan ini diselamatkan buat generasi masa depan. Jadi kalo besok punya cucu, mereka nanya, 'Pak, katanya di Condet ada kebun salak yang terkenal sebagai simbol Jakarta', nanti bisa ajak di mari. Di sinilah kebun salak ini dipertahankan," katanya.
Walaupun lahan tersebut diambil alih Dinas Pertanian dan Kehutanan, warga tetap boleh berkunjung dan melihat-lihat Kebun Salak Condet. Dinas Pertanian dan Kehutanan kini menjadikannya sarana edukasi sekaligus rekreasi untuk masyarakat, khususnya agrowisata Salak Condet.

Share this article
Berdasarkan keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989, Salak Condet adalah ikon Kota Jakarta. Namun, kini sangat sulit untuk menikmati rasanya yang khas, bahkan, untuk sekedar menemui keberadaannya.