AYOJAKARTA.COM – Memiliki hulu di perbatasan Cianjur dan Bogor, Sungai Ciliwung yang menjadi titik lokasi banjir kota Jakarta memiliki Daerah Aliran hingga mencapai 387 KM.
Selain melintasi kota Bogor, Depok serta Jakarta, Sungai Ciliwung memiliki hulu di sekitar kawasan Luar Batang atau wilayah yang kini dikenal sebagai Pasar Ikan.
Sempat menjadi salah satu lokasi mobilitas air bagi perahu kecil, keberadaan Sungai Ciliwung di Jakarta sering dianggap mendatangkan persoalan.
Baca Juga: Tuai Kontroversi, Bank Indonesia Putuskan Menunda Payment ID Kecuali untuk WNI Kategori Ini
Sejalan dengan perkembangan zaman, sebutannya sebagai Sungai kemudian mulai bergeser sehingga hari ini lebih dikenal dengan istilah Kali Ciliwung.
Bagi warga Jakarta yang bermukim di sepanjang sungai, Kali Ciliwung kerap menjadi salah satu sumber penyebab terjadinya banjir besar.
Guna meminimalisir potensi dampak banjir tahunan akibat luapan, saat ini Pemprov Jakarta tengah gencar melakukan normalisasi.
Untuk mengantisipasi dampak musim hujan, sepanjang 19.90 Kilometer area kali Ciliwung akan dilakukan normalisasi.
Menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum, Pemprov Jakarta terus melakukan pengerukan serta memperkecil dampak banjir musiman di Jakarta.
Disamping melakukan pengerukan dan pemugaran di wilayah bantaran, upaya lain yang tengah dilakukan pemprov adalah dengan menambahkan infrastruktur serta tanggul.
Adapun panjang tanggul pengaman kali yang telah direncanakan oleh Pemprov Jakarta memiliki panjang mencapai 33,69 Kilometer.
Selain Kebon Manggis dan Kampung Melayu, beberapa wilayah Jakarta yang akan mendapat manfaat normalisasi antara lain Bidara Cina, Manggarai, Bukit Duri, Kebon Baru serta Cawang.
Dampak normalisasi Kali Ciliwung nantinya juga akan dirasakan warga di sekitar Cililitan, Balekambang, Pengadegan, Rawajati, Pejaten Timur hingga Tanjung Barat.
Dengan adanya program normalisasi tersebut, Pemprov Jakarta berkomitmen akan menjadikan wilayah di sekitar kali menjadi lebih manusiawi.
Melalui program normalisasi yang terus dioptimalkan, Pemprov Jakarta juga berencana menjadikan area kali sebagai salah satu ruang terbuka serta dapat dimanfaatkan oleh publik.
Salah satu gagasan yang diberikan oleh Pemprov Jakarta, dalam hal ini Wagub Rano Karno terkait dengan normalisasi kali adalah desain jembatan.
Untuk memudahkan proses pengerukan sekaligus membuka akses bagi alat berat sehingga bisa lebih leluasa adalah dengan menggunakan sistem buka-tutup.
Dengan adanya sistem buka-tutup seperti di perairan Belanda, Rano Karno menyebut proses pengerukan kali Ciliwung akan menjadi lebih efektif dan mudah dilakukan.
Selain membuka akses terhadap alat-alat berat, sistem jembatan buka-tutup juga akan memangkas waktu pelaksanaan. ***

Share this article
Salah satu gagasan yang diberikan oleh Pemprov Jakarta, melalui Rano Karno terkait dengan normalisasi kali adalah desain jembatan