AYOJAKARTA.COM – Didukung oleh figur pilihan yang dianggap memiliki berbagai kualifikasi kepemimpinan, warna Pilkada Jakarta cenderung berbeda dari tahun sebelumnya.
Kehadiran Jokowi di kubu pasangan Rido dan Anies Baswedan di sudut Pramono-Rano, akan saling mempengaruhi perolehan suara peserta Pilkada Jakarta.
Selain menjadi legitimasi politik, dukungan Jokowi serta Anies Baswedan dalam Pilkada Jakarta juga membawa perubahan psikologis di tingkat elit.
Memiliki rekam jejak dan pengalaman berpolitik yang berbeda, Anies atau Jokowi tetap mempunyai kemampuan untuk membawa tensi permainan.
Berbekal pengalaman sebagai Gubernur Jakarta, Jokowi yang baru saja purna bhakti sebagai Presiden pada Oktober lalu merekomendasikan Ridwan Kamil.
Sementara di sisi berbeda, Anies Baswedan dengan histori politiknya justru mampu memiliki kesamaan politik dengan PDIP yang merupakan rivalnya di Pilkada 2017.
Kemampuan Anies dalam mengakomodir perbedaan, menjadi nilai tambah tersendiri yang mampu mempengaruhi Pilkada Jakarta.
Karena itu kehadiran sosok Anies Baswedan dalam lingkaran pasangan Pramono-Rano, tidak bedanya dengan Pemain naturalisasi di sebuah tim kesebelasan.
Pandangan terkait dampak Anies Baswedan dan Jokowi dalam Pilkada Jakarta tersebut disampaikan Adi Prayitno saat menjadi narasumber.
Namun demikian, Adi melihat adanya ketidak maksimalan peran dari para pemain 'naturalisasi' yang justru baru muncul di fase akhir pertandingan.
Baca Juga: 4 Tips Ampuh Mengembalikan Foto yang Terhapus Permanen di HP Tanpa Menggunakan Aplikasi
“Kalau bisa juga terjun ke masyarakat mengajak basis konstituennya mendukung salah satu paslon,” ungkap Adi.
Adi menambahkan, endorsement politik yang diungkapkan melalui pernyataan atau sekedar rekaman gambar atau dokumentasi virtual, cenderung kurang memiliki dampak.
Terlebih karena mayoritas pemilih Jakarta merupakan individu yang independen sehingga relatif sukar untuk didikte atau dipengaruhi.
Karena itu Adi menilai bentuk kampanye yang paling efektif untuk dilakukan saat ini adalah dengan bertatap muka langsung dengan pemilih.
“Endorsemen memang cukup penting, tapi alangkah baiknya jika endorsement itu juga dilakukan langsung oleh elit kunci,” imbuh Adi.
Menurut Adi, dukungan pemilih Jakarta terhadap figur elit cenderung tidak dapat diprediksi sehingga memerlukan bukti untuk memastikan nilai endorsemennya.
Baca Juga: Estimasi Berangkat Haji Bisa Dicek Secara Online dari Sekarang! Berikut Langkah-langkahnya
Selain karena cara pandang pemilih yang cenderung berubah, figur elit seperti Jokowi dan Anies juga secara fungsi tidak lagi menjabat di instansi.
Kualitas endorsement, menurut Adi sangat dipengaruhi bukan hanya oleh figur tetapi juga peran atau jabatan yang disandang.
“Mereka yang berkampanye adalah orang yang tidak lagi menjabat, beda kalau yang berkampanye itu Presiden, semua infrastruktur politiknya akan masuk,” pungkasnya. ***

Share this article
Kehadiran Jokowi di kubu pasangan Rido dan Anies Baswedan di sudut Pramono-Rano, akan saling mempengaruhi perolehan suara Pilkada Jakarta