GAMBIR, AYOJAKARTA.COM -- Masih banyak masyarakat Indonesia yang khawatir layanan kesehatan dalam negeri tidak mampu menampung jumlah pasien COVID-19 yang terus bertambah.
Demikian hasil survei yang dilakukan sepanjang 13 hingga 18 April 2020 sebagaimana disampaikan Direktur Amrta Institute, Nila Ardhianie.
Jumlah responden yang terlibat dalam survei ini sebanyak 1.110 orang yang tersebar di 34 provinsi.
Jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 58,2 persen dan perempuan 40,8 persen. Sebanyak 98,1 persen responden mempunyai rentang usia 23-60 tahun.
Hasil sampel diolah menggunakan SPSS IBM 24. Sementara masukan berupa teks dianalisis menggunakan word cloud.
Nila mengatakan, sebanyak 88,4 persen responden mengaku khawatir layanan kesehatan tidak mampu menampung masyarakat yang sakit.
Kekhawatiran masyarakat terhadap layanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu keterbatasan jumlah tes, pasokan alat perlindungan diri (APD), dan masih terbukanya jalur transportasi serta mobilitas manusia.
"Untuk di Indonesia sendiri kami melihat ada masalah yang cukup mendasar, seperti keterbatasan jumlah tes, bencana nasional, dan terkait pulang kampung serta episentrum baru Covid-19," kata Nila saat telekonferensi pers, Senin (4/5/2020).
Selain masalah kesehatan, studi ini juga meneliti dampak ekonomi dan sosial. Nila menuturkan, 33 persen responden mengaku kesulitan membayar sewa rumah. Kemudian, 17 persen responden sudah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Selain itu, 38 persen responden belum dapat bekerja dari rumah karena tuntutan profesi. 46 persen mengatakan perusahaan tempatnya bekerja dapat bertahan 5-6 bulan ke depan, 37 persen menjawab bisa bertahan 1-4 bulan ke depan," jelasnya.
Para responden juga berharap mendapatkan layanan kesehatan yang baik, sehingga risiko ketidakpastian dapat ditekan. Pemerintah diminta solid dan tegas dalam mengambil setiap kebijakan.
"Agar dapat segera mengatasi bencana nasional COVID-19, pemerintah diharapkan tegas dan fokus pada core masalah yaitu kesehatan," ungkap Nila.

Share this article
Sebanyak 88,4 persen responden mengaku khawatir layanan kesehatan tidak mampu menampung masyarakat yang sakit.