AYOJAKARTA.COM - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada penghujung November 2025 menjadi salah satu tragedi ekologis paling besar dalam beberapa dekade terakhir.
Hujan lebat yang tak henti selama beberapa hari membuat sungai-sungai meluap, perbukitan runtuh, dan ratusan desa tenggelam. Lebih dari 400 orang meninggal dunia, infrastruktur vital lumpuh, dan ketiga provinsi terdampak serentak menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari.
BNPB mencatat, sepanjang Januari hingga November saja, Indonesia mengalami 2.726 bencana hidrometeorologi, angka yang mencerminkan krisis lingkungan yang kian dalam.
Menurut Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, tragedi ini sejatinya bukan peristiwa tunggal.
Ia merupakan bagian dari pola berulang yang makin intens dalam dua dekade terakhir. “Curah hujan ekstrem hanyalah pemicu,” ujar Hatma, dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada.
BMKG mencatat sebagian wilayah Sumut diguyur lebih dari 300 mm hujan per hari, dipengaruhi oleh Siklon Tropis Senyar yang muncul tak lazim di Selat Malaka.
Namun efek destruktif banjir bandang muncul terutama karena rapuhnya benteng alam di kawasan hulu. Hutan yang rusak membuat ekosistem DAS kehilangan kemampuan menahan, memfilter, dan menyalurkan air secara bertahap.
Baca Juga: Akses Terputus akibat Banjir, Prabowo Pastikan Jembatan Bailey Teupin Mane Selesai dalam 1 Minggu
Dalam kondisi normal, hutan alami dapat menyerap 55% air hujan, menahan 15–35% di tajuk, dan mengembalikan hingga 40% ke atmosfer melalui evapotranspirasi.
Ketika tutupan hutan hilang, seluruh air langsung berubah menjadi limpasan permukaan. Itulah yang memicu banjir besar dan longsor yang kemudian menciptakan bendungan alami di sungai yang sewaktu-waktu dapat jebol dengan daya rusak besar.
Deforestasi di Sumatra memperparah semuanya. Aceh kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan dalam tiga dekade. Sumatra Utara kini hanya memiliki sekitar 29% tutupan hutan, dan sisa hutan Batang Toru pun terus terfragmentasi oleh aktivitas industri.
Sumatra Barat mengalami deforestasi salah satu yang tercepat, dengan 740 ribu hektare tutupan pohon hilang sejak 2001. Hutan yang tersisa pun banyak berada di lereng curam Bukit Barisan kombinasi yang sangat rawan longsor.
Selain faktor ekologis, struktur geomorfologi Sumatra juga membuat wilayah ini ibarat “lorong percepatan bencana”. Lereng terjal mengalirkan air langsung ke dataran rendah, sementara kipas vulkanik kini banyak dihuni masyarakat.
Mantan Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menambahkan bahwa perubahan iklim memperburuk segalanya. Suhu global meningkat 1,55°C, membuat hujan ekstrem lebih sering, dan anomali siklon tropis di wilayah Indonesia semakin nyata.
Para ahli sepakat bahwa tanpa pemulihan hutan, pengendalian DAS, dan penegakan tata ruang, bencana serupa bukan hanya mungkin terulang melainkan bisa jauh lebih besar. Tragedi 2025 seharusnya menjadi alarm keras untuk kembali menata hubungan manusia dengan alam.***

Share this article
Banjir bandang akhir Nov 2025 di Sumbar, Sumut, dan Aceh tewaskan 400+ orang. Hujan ekstrem, hutan rusak, dan DAS rapuh memperparah dampak.