AYOJAKARTA.COM – Sempat dilirik untuk menduduki jabatan Ketua Umum PPP, Presiden Ketujuh RI Joko Widodo justru mengaku lebih tertarik untuk berlabuh ke PSI.
Joko Widodo menyebut alasannya lebih condong merapat ke Partai Solidaritas Indonesia atau PSI dibanding ke PPP, adalah karena banyaknya jumlah kontestan.
Karena itu secara tegas Joko Widodo menganggap namanya yang masuk dalam bursa calon Ketum PPP tidak akan ditanggapi secara mendalam, sehingga lebih memilih PSI.
“Saya kira banyak calon-calon Ketua Umum yang jauh lebih baik, punya kapasitas dan kapabilitas dan kompetensi, saya di PSI saja,” ujarnya dikutip Ayojakarta dari YouTube Official iNews.
Memantapkan diri bergabung ke partai tempat Kaesang bernaung, nama Jokowi kembali menjadi sorotan usai salah satu kader PSI menjulukinya pantas menjadi Nabi.
Lewat unggahannya di platform X, Dedy Nur Palaka yang menjabat Biro Ideologi dan Kaderisasi menulis bahwa sosok Jokowi sudah memenuhi syarat untuk jadi nabi.
“Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat, cuman sepertinya beliau menikmati menjadi manusia biasa dengan senyum selalu lebar ketika bertemu rakyat,”
Baca Juga: Terbongkar! Ini Profil Fahrur Rozi, Komisaris PT Gag Nikel yang Juga Petinggi PBNU
Karena dianggap cukup kontroversial, unggahan Dedy tersebut sontak menuai banyak kecaman dari para pengguna di platform X.
Menurut Buni Yani tokoh yang mengaku sebagai korban pidana kriminalisasi saat masih Jokowi menjabat Presiden, julukan tersebut sangat tidak pantas.
Melalui akun facebooknya, Buni Yani menyebut bahwa Jokowi tidak pantas untuk menjadi nabi karena menjadi Camat saja tidak layak.
Selain disentil oleh Buni Yani, unggahan Dedy juga mendapat komentar pedas dari Jhon Sitorus yang dikenal publik sebagai Pegiat Media Sosial.
Menurut Jhon, penggunaan kata nabi yang disematkan kepada Jokowi jauh bertentangan dengan definisi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Karena itu, John mendesak agar pernyataan kader PSI mengenai Jokowi yang memenuhi syarat menjadi nabi perlu dipertimbangkan secara lebih mendalam.
Menyikapi tanggapan tersebut, Dedy berargumen bahwa penggunaan istilah nabi dalam unggahannya bukan merujuk kepada aspek Ilahiyah.
Sebagaimana dengan Socrates, Budha serta Karl Marx yang merupakan tokoh pembawa perubahan di zamannya, penggunaan istilah nabi kepada Jokowi dapat disematkan.
Baca Juga: Dijodohkan Netizen, Begini Perbandingan Harta Kekayaan Sherly Tjoanda dan Dedi Mulyadi
Mengacu pada literatur filsafat, Dedy menyebut istilah nabi merupakan sebuah metafora sehingga tidak perlu disikapi secara berlebih karena merupakan Hak Tafsir.
Melalui unggahan terbarunya, Dedy juga berharap agar Argumennya soal nabi dibalas dengan Argumen dan bukan lewat sentimen.
Sebagaimana Jokowi pernah disebut oleh Penggagas Masyarakat Maiyah Cak Nun sebagai Firaun, hal serupa menurut Deddy juga perlu dijadikan sebagai renungan kolektif. ***

Share this article
Jokowi pilih gabung PSI ketimbang PPP, usai namanya masuk bursa Ketum. Pernyataan kader PSI soal Jokowi layak jadi nabi picu kontroversi.