AYOJAKARTA.COM - Inovasi Wolbachia merupakan strategi baru untuk mengatasi penularan kasus dengue di Indonesia.
Provinsi Bali menjadi salah satu tempat uji coba penerapan inovasi nyamuk Aedes Aegypti mengandung Wolbachia melalui kerja sama dengan World Mosquito Program (WMP).
Penyebaran nyamuk Wolbachia hingga kini masih ditunda sementara.
Baca Juga: Timbulkan Pro Kontra, Ini 5 Kota yang Akan Sebar Nyamuk Wolbachia untuk Atasi DBD
Hal ini lantaran timbul kontroversi masyarakat, di mana nyamuk Wolbachia disebut akan mengganggu aktivitas manusia.
Peramal tanah air atau dikenal ahli firasat bernama Wirang Birawa membeberkan ramalannya terkait nyamuk Wolbachia melalui Instagram @masterfirasat_terjawab.
"Ini hanya cara untuk mengalihkan dari tujuan utamanya," tulis Wirang Birawa.
Baca Juga: Nyamuk Wolbachia: Metode Klaim Reduksi Penyebaran DBD yang Menimbulkan Pro dan Kontra
"Wolbachia membuat nyamuk Aedes Aegypti tidak bisa berkompetisi dengan nyamuk culex. Sehingga nyamuk culex yang berkembang pesat dan bila menggigit manusia akan menyebabkan radang otak (Japanese Encephalitis)," katanya.
"Apakah ini bukan siasat?," tanya Wirang Birawa.
Unggahan Instagram tersebut sontak mendapatkan berbagai respon dari warganet.
"Efek gigitannya bisa ngefek sampai ke otak gitu apa cuma akal-akalan mereka nakut-nakutin bang?," komentar akun @gha***
"Culex ternyata akhir-akhir ini sudah ada di sekitar kita, dan saya baru ngeh ternyata ukuran dan bentuk nyamuk sekarang lebih kecil dan warnanya lebih muda, bener yang dikatakan bang Wirang," komentar akun @put***
"Kenapa bener banget lagi, aku baca-baca ternyata dulu pernah diujikan di daerah Jogja dan ditutup penelitiannya tahun 2020, mungkin ini juga efek buruk setelah 2 tahun," kata akun @ani***
Meski tuai polemik di kalangan masyarakat, pakar akademis dari Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa nyamuk Wolbachia aman bagi manusia dan mampu menurunkan kasus DBD.
Melansir laman ugm.ac.id, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D. menyampaikan bahwa dari penelitian teknologi Wolbachia sudah dilakukan di Yogyakarta selama 12 tahun sejak 2011 lalu.
Mulai dari dari tahapan penelitian fase kelayakan dan keamanan (2011-2012), fase pelepasan skala terbatas (2013-2015), fase pelepasan skala luas (2016-2020), dan fase implementasi (2021-2022).
Di dunia, kata Riris, studi pertama Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT).
Berdasarkan hasil studi AWED menunjukkan bahwa nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77.1% dan menurunkan rawat inap karena dengue sebesar 86%. ***

Share this article
Kontroversi mengelilingi penggunaan nyamuk Wolbachia untuk mengatasi dengue. Ada klaim dapat menyebabkan virus Japanese Encephalitis.