AYOJAKARTA.COM -- Kehadiran Joko Widodo saat HUT Partai Gerindra serta pernyataan Prabowo Subianto soal dukungan dari Presiden ketujuh kini menjadi perhatian.
Dalam pidatonya, Prabowo Subianto selaku Ketum menyebut kemenangan Koalisi Indonesia Maju tidak lepas dari dukungan Joko Widodo yang saat itu menjabat Presiden.
Karena itu sebagai bentuk apresiasi terhadap Joko Widodo, Prabowo Subianto mengajak seluruh kader Partai Gerindra untuk menjaga amanah yang diberikan oleh rakyat.
Tanpa adanya dukungan dari rakyat Indonesia serta Koalisi Indonesia Maju, Ketum Partai Gerindra menilai kabinet Merah-Putih belum tentu ada hari ini.
“Kita berhasil karena kita didukung oleh Presiden Ketujuh, sesuai dengan nilai bangsa Indonesia, hormatilah mereka yang berjasa, Hidup Jokowi,” jelas Prabowo.
Selain disorot karena pernyataan Prabowo, tanggapan Jokowi soal kuatnya dukungan terhadap Presiden Prabowo juga mendatangkan beragam penilaian.
Banjir kritik yang tertuju kepada Joko Widodo, menurutnya merupakan salah satu indikasi kuatnya dukungan terhadap Presiden Prabowo.
“Sampai detik ini saya melihat tidak ada yang berani mengkritik, yang jadi sasaran adalah Jokowi,” guyon Jokowi yang kemudian disambut riuh.
Mesranya hubungan antara kedua tokoh nasional tersebut, sempat ditafsirkan sebagai bentuk sikap legowo serta masih adanya bayangan Jokowi dalam kabinet Prabowo.
Menyikapi anggapan tersebut, Politisi Partai Gerindra Dahnil Anzar Simanjuntak menilai masyarakat memiliki kebebasan dalam memberikan tafsir.
Namun demikian, Dahnil memastikan corak politik yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lebih bersifat merangkul ketimbang memukul.
Baca Juga: Tiba-tiba Banget! Jokowi Pidato di HUT ke-17 Partai Gerindra, Ada Apa?
Karena itu untuk memastikan terwujudnya persatuan dan kesatuan yang merupakan Fardhu Ain dalam konteks keagamaan, Prabowo mengesampingkan nilai pribadi.
Seluruh tokoh elit dari berbagai partai politik, menurut Dahnil memiliki kesempatan luas untuk bersama-sama membangiun Indonesia agar lebih maju.
Sehubungan dengan pentingnya kolaborasi dari berbagai elit parpol, nama Jokowi kembali disorot setelah rencananya untuk membentuk Partai Super Terbuka muncul.
Meski belum resmi terbentuk, Partai Super Terbuka besutan Jokowi akan mengusung konsep menyerupai perusahaan.
Memberikan kebebasan bagi siapapun untuk dapat terlibat, Partai Super Terbuka dipastikan tidak menjadi partai yang bersifat inklusif atau perseorangan.
Terkait wacana pembentukan Partai Super Terbuka yang diinisiasi Jokowi, Pengamat Politik Hendri Satrio menilai hal tersebut merupakan bentuk kritik politik.
Berkaca pada realitas politik selama ini, Partai Super Terbuka menurut Hensat merupakan kritik keras atas sistem kepartaian yang berlaku di Indonesia.
“Hampir semua partai politik Pernyataan terkuatnya ada di Ketua Umum, jadi ini kritik atas sistem kepartaian kita,” jelas Hensat.***

Share this article
Kehadiran Joko Widodo saat HUT Partai Gerindra serta pernyataan Prabowo Subianto soal dukungan dari Presiden ketujuh kini menjadi perhatian.