AYOJAKARTA.COM - Indonesia Gelap sempat disinggung Presiden Prabowo saat menerima kedatangan para jurnalis di Padepokan Garuda Yaksa Hambalang, Bogor 6 April 2025 lalu.
Di hadapan para Pemimpin Redaksi dan perwakilan jurnalis, Presiden bahkan berencana akan menemui sejumlah tokoh yang disebut–sebut mencetuskan narasi Indonesia Gelap.
Rencana pertemuan Presiden Prabowo dengan tokoh Indonesia Gelap, rencananya juga akan dilakukan secara formal atau tertulis hitam diatas putih melalui surat.
Adapun maksud undangan tertulis yang rencananya akan dilakukan Presiden kepada tokoh Indonesia Gelap, tidak lain untuk membuka ruang diskusi.
Menyikapi rencana yang disampaikan Presiden, Hendarsam Marantoko yang merupakan politisi Partai Gerindra sekaligus Ketum Lisan Prabowo memberi tanggapan.
Menurut Hendarsam, pernyataan yang disampaikan Presiden kepada jurnalis merupakan salah satu bukti sikap demokratis sebagai seorang Pemimpin Bangsa.
Selain bagian dari bentuk rasa sopan, undangan secara tertulis juga dimaksudkan untuk menepis adanya anggapan otoriter yang dituduhkan kepada Prabowo Subianto.
Baca Juga: Jadi Masalah Serius di Negara Inggris, Indonesia Juga Harus Tahu Bahaya Kertas Struk
Saat bertemu dengan para Jurnalis, Hendarsam juga menyebut sikap terbuka juga sudah diperlihatkan secara langsung kepada publik.
“Kita bisa menangkap bahwa dari sini, spirit Pak Prabowo yang sangat menjunjung tinggi demokrasi dan sagat terbuka untuk dialog,” jelasnya.
Hendarsam juga menambahkan, gagasan tentang Indonesia Gelap yang dicetuskan sejumlah kalangan dinilai tidak sesuai dengan kenyataan.
Setiap kali terbangun di pagi hari, Hendarsam mengatakan Presiden Prabowo justru selalu melihat suasana sebaliknya atau Indonesia Cerah.
Baca Juga: Permintaan Terakhir Almarhumah Titiek Puspa Sebelum Kabar Meninggalnya Tersiar
Kendati demikian, Hendarsam mengaku belum dapat memastikan terkait dengan jadwal undangan atau perempuan dengan para tokoh Indonesia Gelap.
Salah satu tokoh dari kalangan akademisi serta disebut-sebut merupakan penggagas kampanye gerakan sosial Indonesia Gelap. Adalah Feri Amsari.
Dosen HTN sekaligus Peneliti Poshdem Universitas Andalas ini, sebelumnya juga sempat menjadi sorotan saat membintangi film dokumenter Dirty Vote jelang Pilpres 2024 silam.
Menyikapi pernyataan Indonesia Cerah yang disampaikan Hendarsam, Feri menilai hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan sudut pandang.
Diksi Indonesia Gelap, menurut Feri lahir sebagai bentuk kritik terhadap sistem dan tata kelola pemerintahan di Indonesia yang mengalami beragam penyimpangan.
Selain terjadi di level eksekutif, suasana Gelap juga dapat terlihat dari kinerja legislatif di tingkat parlemen saat menetaskan sebuah Undang-Undang.
“Kalau kemudian on te track, saya yakin teman-teman akan merespons secara positif, kami melihat Presiden tidak memahami bangunan ketatanegaraan,” jelasnya.
Tagar Indonesia Gelap, menurut Feri yang mengaku siap bertemu Presiden merupakan bentuk harapan agar seluruh elemen bangsa segera kembali pada jalur bernegara.

Share this article
Indonesia Gelap sempat disinggung Presiden Prabowo saat menerima kedatangan para jurnalis di Padepokan Garuda Yaksa Hambalang.