AYOJAKARTA.COM - Tagar #SaveRajaAmpat telah memenuhi platform media sosial dalam beberapa hari terakhir, dengan jutaan unggahan yang membanjiri berbagai platform mulai dari aktivis lingkungan hingga warganet.
Mereka secara tegas menolak keberadaan tambang nikel yang mengancam keindahan dan kelestarian Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu ekosistem laut terkaya di Indonesia.
Dalam gaung kampanye di media sosial ini, para aktivis dan masyarakat menuntut perlindungan maksimal terhadap Raja Ampat dan menolak pengorbanan ekosistem demi kepentingan industri pertambangan.
Mereka secara tegas menolak keberadaan tambang nikel yang mengancam keindahan dan kelestarian Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu ekosistem laut terkaya di Indonesia.
Dalam gaung kampanye di media sosial ini, para aktivis dan masyarakat menuntut perlindungan maksimal terhadap Raja Ampat dan menolak pengorbanan ekosistem demi kepentingan industri pertambangan.
Baca Juga: Siapa Bilang HP Murah Gak Bagus? Mirip iPhone, 7 Rekomendasi Spesifikasi Gahar Ini Bisa Jadi Pilihan
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas, menegaskan keseriusan permasalahan ini dengan menyatakan:
"Ini sebenarnya persoalan yang serius yang harus ditangani karena memang kita ketahui Raja Ampat itu adalah wilayah yang seharusnya dilindungi dan juga itu merupakan destinasi wisata yang sangat penting dan wilayah yang kaya akan biodiversitas di Indonesia termasuk di dunia. Dan sebagian besar itu sudah ditetapkan sebagai Global Geopark oleh UNESCO."
Rompas juga mengungkapkan bahwa terdapat lima perusahaan tambang yang aktif di wilayah tersebut, dengan tiga perusahaan sudah melakukan aktivitas dan satu perusahaan sedang akan memulai proses eksplorasi di wilayah Raja Ampat.
Menanggapi viralnya isu pertambangan nikel di Raja Ampat Papua Barat Daya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara operasi perusahaan tambang.
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas, menegaskan keseriusan permasalahan ini dengan menyatakan:
"Ini sebenarnya persoalan yang serius yang harus ditangani karena memang kita ketahui Raja Ampat itu adalah wilayah yang seharusnya dilindungi dan juga itu merupakan destinasi wisata yang sangat penting dan wilayah yang kaya akan biodiversitas di Indonesia termasuk di dunia. Dan sebagian besar itu sudah ditetapkan sebagai Global Geopark oleh UNESCO."
Rompas juga mengungkapkan bahwa terdapat lima perusahaan tambang yang aktif di wilayah tersebut, dengan tiga perusahaan sudah melakukan aktivitas dan satu perusahaan sedang akan memulai proses eksplorasi di wilayah Raja Ampat.
Menanggapi viralnya isu pertambangan nikel di Raja Ampat Papua Barat Daya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara operasi perusahaan tambang.
Baca Juga: Info Penting! PIP, BLT Dana Desa, dan Atensi YAPI Wajib Cair Senin-Selasa Deadline Pukul 17.00 WIB
Dari lima izin usaha pertambangan yang terdata oleh Kementerian ESDM, Bahlil memastikan bahwa hanya satu perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, yaitu PT GAG Nikel yang merupakan anak perusahaan dari PT Antam (BUMN).
"Ada beberapa mungkin ada lima setelah saya mendapat laporan dari Dirjen. Yang beroperasi sekarang itu hanya satu, yaitu PT GAG. PT GAG Nikel ini yang punya adalah Antam BUMN. Sekali lagi saya ulangi, yang beroperasi itu adalah PT GAG Nikel yang punya Antam," tegas Bahlil.
Menteri juga menjelaskan perlunya cross check karena adanya gambar yang beredar di media menunjukkan kerusakan di Pulau Panemo, padahal lokasi tersebut berjarak sekitar 30 km dari Pulau GAG tempat PT GAG Nikel beroperasi.
"Agar tidak terjadi kesimpangsiuran maka kami sudah memutuskan lewat Dirjen Minerba untuk status daripada IUP PT GAG yang sekarang lagi mengelola itu kan cuma satu ya. Itu kami untuk sementara kita hentikan operasinya," lanjut Bahlil.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan komitmen pemerintah untuk mengambil langkah hukum terkait eksploitasi tambang nikel di Raja Ampat yang viral dan mendapat protes keras dari aktivis lingkungan.
Dari lima izin usaha pertambangan yang terdata oleh Kementerian ESDM, Bahlil memastikan bahwa hanya satu perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, yaitu PT GAG Nikel yang merupakan anak perusahaan dari PT Antam (BUMN).
"Ada beberapa mungkin ada lima setelah saya mendapat laporan dari Dirjen. Yang beroperasi sekarang itu hanya satu, yaitu PT GAG. PT GAG Nikel ini yang punya adalah Antam BUMN. Sekali lagi saya ulangi, yang beroperasi itu adalah PT GAG Nikel yang punya Antam," tegas Bahlil.
Menteri juga menjelaskan perlunya cross check karena adanya gambar yang beredar di media menunjukkan kerusakan di Pulau Panemo, padahal lokasi tersebut berjarak sekitar 30 km dari Pulau GAG tempat PT GAG Nikel beroperasi.
"Agar tidak terjadi kesimpangsiuran maka kami sudah memutuskan lewat Dirjen Minerba untuk status daripada IUP PT GAG yang sekarang lagi mengelola itu kan cuma satu ya. Itu kami untuk sementara kita hentikan operasinya," lanjut Bahlil.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan komitmen pemerintah untuk mengambil langkah hukum terkait eksploitasi tambang nikel di Raja Ampat yang viral dan mendapat protes keras dari aktivis lingkungan.
Baca Juga: Kapan Aturan Ganjil Genap Jakarta Kembali Diadakan? Ini Penjelasan dan Daftar Ruas Jalannya
"Kami lakukan mapping, secepatnya kami akan ke sana atau paling tidak kami akan segera ambil langkah-langkah hukum terkait dengan kegiatan di Raja Ampat setelah melalui kajian-kajian yang ada di kami," tegas Hanif.
Menteri juga berjanji akan melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk memverifikasi kondisi lapangan: "Insyaallah dalam waktu segera saya akan berkunjung ke Raja Ampat melihat langsung apa yang kemudian digembar-gemborkan oleh media dan masyarakat."
Pentingnya perlindungan Raja Ampat tidak dapat dipungkiri mengingat kawasan ini merupakan destinasi wisata unggulan Indonesia dan telah masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark.
Letaknya yang strategis berada di jantung kawasan Segitiga Terumbu Karang menjadikan Raja Ampat sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati terbesar di bumi.
Sehingga eksploitasi tambang di wilayah ini dapat mengancam ekosistem global yang sangat berharga.***
"Kami lakukan mapping, secepatnya kami akan ke sana atau paling tidak kami akan segera ambil langkah-langkah hukum terkait dengan kegiatan di Raja Ampat setelah melalui kajian-kajian yang ada di kami," tegas Hanif.
Menteri juga berjanji akan melakukan kunjungan langsung ke lokasi untuk memverifikasi kondisi lapangan: "Insyaallah dalam waktu segera saya akan berkunjung ke Raja Ampat melihat langsung apa yang kemudian digembar-gemborkan oleh media dan masyarakat."
Pentingnya perlindungan Raja Ampat tidak dapat dipungkiri mengingat kawasan ini merupakan destinasi wisata unggulan Indonesia dan telah masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark.
Letaknya yang strategis berada di jantung kawasan Segitiga Terumbu Karang menjadikan Raja Ampat sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati terbesar di bumi.
Sehingga eksploitasi tambang di wilayah ini dapat mengancam ekosistem global yang sangat berharga.***

Share this article
Dari lima izin usaha pertambangan yang terdata oleh Kementerian ESDM, Bahlil memastikan satu perusahaan yang beroperasi yaitu PT GAG Nikel