AYOJAKARTA.COM -- Perhelatan KTT G20 memang sudah rampung. Seusai ditutup pada 16 November, aneka pujian disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pemerintah Indonesia atas keberhasilan menyelenggarakan pertemuan pemimpin negara dengan ekonomi terkuat di dunia itu.
Penyelenggaraan KTT G20 di Bali dinilai berbeda dengan pelaksanaan pertemuan itu tahun-tahun sebelumnya. Selain Indonesia mampu menciptkan suasana meeting yang tidak kaku, para pemimpin dunia dan delegasi organisasi tingkat dunia disuguhi pula pemandangan yang tidak biasa.
Para tamu negara itu disuguhi pemandangan belasan kapal perang yan berbaris, berpatroli rapi pada sisi Selatan atau sisi laut Apurva Hotel, tempat di mana kegiatan KTT G20 tahun 2022 berlangsung.
Tidak kurang dari 14 kapal perang canggih 24 jam melindungi kepulauan Bali dan memagari laut seperti perisai yang melindungi perairan pantai Hotel Apurva Nusa Dua Bali.
Bukan hanya kapal perang kelas Frigate dan Corvet dengan segala senjata dan peralatan canggihnya, sebuah kapal latih layar, KRI Bima Suci, juga melengkapi jajaran kapal yang melintas sepanjang hari yang menjadi perhatian para peserta G20.
Nuansa alam Bali dengan kekayaan budayanya, keberadaan kapal perang dan kapal latih layar yang gagah namun indah tersebut seakan menyatu menjadi satu harmoni. Hal ini, disatu sisi menyajikan rasa aman dari segala ancaman, di sisi lain menghadirkan kenyamanan, ketentraman dan Keindahan.
Jajaran kapal tersebut oleh Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa dipercayakan kepada Laksamana Muda (Laksda) TNI Dr. TSNB Hutabarat MMS untuk memimpin Satuan Tugas Laut (Satgasla) yang terdiri dari 14 kapal perang untuk menjamin keamanan dari dan pada sektor laut pada perlehatan G20 tahun 2022 ini.
Laksda Cokky, demikian jenderal bintang dua itu kerap dipanggil, sehari-hari menjabat Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II yang bermarkas di Surabaya. Kawasan yang menjadi tanggung jawab Laksda Cokky sangatlah luas.
Meliputi wilayah perairan dan yurisdiksi Indonesia yang membentang pada seluruh Kalimantan (kecuali Pontianak), seluruh Sulawesi, wilayah P. Jawa mulai perbatasan Cirebon ke arah Timur dan seluruh wilayah Timur Indonesia kecuali Maluku dan Papua.
Sangat beralasan jika jabatan Komandan Satgasla dipercayakan untuk diemban oleh Laksamana yang telah malang melintang menjalankan tugas, pendidikan, dan latihan ini.
Arahan Langsung Kasal Laksamana Yudo Margono
Menurut Laksda Cokky, dukungan dan perhatian Kasal, Laksamana TNI Yudo Margono, sangatlah luar biasa. Bahkan arahan Kasal kepadanya adalah agar seluruh kekuatan Satgasla dilengkapi dengan Rudal, Torpedo, Bom Laut, Roket anti Kapal selam dan amunisi penuh pada setiap meriam kapal di bawah komando Satgasla. Kasal pun turun langsung mengecek kesiapan persenjataan di kapal pada saat gelar pasukan yang dilaksanakan di Surabaya, 4 November 2022.
Menjadi Komandan Satgasla yang membawahi puluhan kapal seperti ini tentu saja bukan hal yang baru bagi Cokky. Pada tahun 2016, ia dipercaya sebagai Dansatgas Multilateral Naval Exercise Komodo yang dilaksanakan di perairan Padang dan sekitarnya.
Pada saat itu kegiatan yang dilaksankan adalah Fleet Review, Western Pacific Naval Symposium (WPNS) dan Latihan Maritime Peace Keeping Operation yang melibatkan 50 kapal, dengan keterlibatan angkatan laut dari 39 negara. Latihan Mutilateral angkatan laut ini merupakan kegiatan latihan militer pertama yang ditinjau bahkan dibuka oleh Presiden Joko Widodo.
Dalam hal operasi laut, dirinya pula yang menjadi salah satu tokoh dibalik pengusiran Kapal Cina yang melintas batas memasujki wilayah Indonesia di Laut Natuna Selatan. Pada saat dirinya masih menjabat Komandan Guspurla Koarmabar pada 23 Juni 2016, saat itu terjadi penembakan terhadap kapal nelayan Cina oleh Kapal perang Indonesia.
Hal ini membuat Presiden Jokowi tergerak melakukan rapat dengan berlayar di laut Natuna Utara di atas KRI Imam Bonjol- 383 yang berada dibawah komandonya.
Demikian pula ketika dirinya menjabat sebagai Deputi Operasi dan Latihan Badan Keamanan Laut (Bakamla) pada tahun 2020. Saat itu, terjadi peristiwa pengusiran kapal China Coast Guard oleh unsur Bakamla. Hal itu menggerakkan Presiden Jokowi untuk hadir dan meninjau kekuatan TNI AL dan Bakamla yang beroperasi di sekitar Kepualauan Natuna.
Pada 7 September 2022, ketika salah satu Pesawat Bonanza T-2503 mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut di Selat Madura, sebagai Panglima Koarmada II, Laksda Cokky menunjukkan sikap sigap dan profesionalisme yang patut mendapat acungan jempol.
Di bawah kepemimpinannya yang turut langsung, terjun ke lapangan, pesawat Bonaza dengan dua korban pilot yang telah berada di dasar laut tersebut, tidak lebih dari 24 jam telah berhasil ditemukan dan dievakuasi, diangkat, ke atas geladak Kapal KRI Soputan–923.
Sebagai Komandan Satgasla G20, strategi yang diterapkan Laksamana yang sangat dekat dengan kalangan media ini adalah; pertama menabiri sekeliling Pulau Bali dengan sektor sektor patroli.
Sektor-sektor ini tidak hanya diawaki oleh 14 kapal di bawah komando dirinya selaku Komandan Satgasla pengamanan G20, tetapi dijaga pula oleh kapal-kapal perang lainnya yang beroperasi sehari hari di bawah komandonya selaku Panglima Koarmada II.
Kedua, membentuk layer-layer pengamanan khususnya di lokasi-lokasi strategis (misalnya di sekitar Hotel Apurva, tempat di mana G20 berlangsung) dengan menjaga laut mulai dari pantai, laut teritorial hingga bersinggungan dengan sektor sektor patroli yang telah terbentuk dan mengelilingi P. Bali.
Ketiga, pemantauan kapal fery antarpulau yang datang dan pergi menuju P. Bali serta pemeriksaan perahu dan nelayan yang mencurigakan.
Keempat, mengawasi kapal kapal yang melintas di ALKI, menjamin keselamatan pengguna laut yang melakukan lintas damai tetapi dengan tetap menjaga agar kapal kapal tersebut tidak keluar dari jalur ALKI yang telah ditentukan.
Pola operasi yang dilakuan juga telah memanfaatkan kemajuan teknologi yaitu kemampuan surveilance dan pemantauan dari Puskodal TNI AL serta VTS.
Ketika ditanya tentang tantangan dari Satgasla ini, Cokky menyampaikan bahwa Satgasla ini harus menjaga keamanan G20 dan menegakkan kedaulatan, hukum dengan kondisi yang berbeda dibanding Satgas lainnya.
Hal ini karena tugas yang dijalankan Satgasla bukan hanya di wilayah teritorial Indonesia, melainkan berada di wilayah atau rezim laut yang merupakan sovreignty (kedaulatan penuh) dan Sovreignt right (Hak berdaulat).
Dengan demikian, di satu sisi, keamanan peserta G20 harus terjamin sehingga harus ada pembatasan dari pihak yang mendekat, di sisi lain kebebasan kapal yang melintas juga harus dijamin kebebasannya untuk melintas di ALKI dengan aman. Untuk itu kapal perang telah disiagakan di ALKI.
Laksda Cokky menjamin bahwa kapal yang melintas ALKI akan dipantau dan dijamin kapal yang datang dari Utara akan keluar ke Selatan, demikian sebaliknya. Kapal perang akan melakukan tindakan jika didapati adanya kapal yang seharusnya hanya melintas ALKI namun keluar dari jalur dan menuju ke arah Bali atau Lombok.
Di tengah kesibukan aktivitas Satgasla, Cokky masih memberi peluang untuk media meliput dan on board di Kapal perang yang melaksanakan patroli di selatan Hotel Apurva.
Menurut dia, hal itu adalah pelaksanaan dari arahan Kasal Laksamana Yudo Margono bahwa TNI AL harus transparan sebagai bagian dari akuntabilitas publik.
Pada saat dirinya menjelaskan tentang tantangan yang dihadapi Satgasla, Laksda Cokky Hutabarat tetap merendah dan mengatakan bahwa Setiap Satgas memiliki tantangan masing masing dan dalam menangani pengamanan VVIP dirinya hanya bagian sangat kecil dari sistem yang kompleks.

Share this article
Laksamana Muda TSNB 'Cokky' Hutabarat menjadi jenderal yang bertanggung jawab keamanan laut selama pelaksanaan KTT G20 di Bali