AYOJAKARTA.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen penting bagi para siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya.
Tak jarang, rasa canggung dan gugup menyelimuti mereka. Di sinilah peran ice breaking, sebuah kegiatan yang dirancang untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban antar siswa.
Pentingnya ice breaking dalam proses pembelajaran adalah agar siswa tetap fokus dan berkonsentrasi, serta membantu meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan.
Selain itu, ice breaking juga membuat siswa merasa senang ketika belajar sehingga membantu meningkatkan minat dan motivasi mereka dalam belajar.
Dilansir AyoJakarta.com dari video YouTube Nam Channel yang diunggah 15 Desember 2021, berikut 10 ide ice breaking MPLS untuk SD, SMP dan SMA:
Baca Juga: 6 Twibbon MPLS SD 2024 Terbaik dari Twibbonize, Klik Link Gratis
1. Tepuk pagi, siang, dan malam
Permainan ini melibatkan tepukan tangan berdasarkan waktu yang disebutkan oleh guru.
Ketika guru mengucapkan "pagi", siswa tepuk tangan satu kali. Ketika "siang", siswa tepuk tangan dua kali, dan untuk "malam", tepukan tangan hanya setengah karena menggambarkan suasana tidur.
Guru dapat mengecoh siswa dengan variasi ucapan seperti "pagi-pagi", "siang-siang", atau "pagi-siang". Siswa yang masih melakukan tepukan tangan saat guru mengucapkan "malam" berarti belum fokus.
2. Ikuti apa yang saya ucapkan
Guru menggunakan dua kata berbeda, misalnya "ayam" dan "bebek". Guru menginstruksikan siswa untuk mengikuti apa yang diucapkan, seperti "ayam-ayam, bebek-bebek".
Jika guru bertanya "ada berapa ayam?", siswa yang konsentrasi akan mengulangi pertanyaan tersebut, bukan menjawab jumlah ayam.
3. Konsentrasi
Permainan ini menggabungkan tepuk tangan dan menyebut nama. Tepukannya seperti ini: satu-dua (ketuk paha), tiga-empat. Siswa mulai dengan menyebut namanya dan nama teman yang ditunjuk.
Teman yang disebutkan harus menyebutkan nama dirinya dan nama teman lain yang ia tunjuk. Contoh: "Ambar-Bunga", kemudian "Bunga-Sule", dan seterusnya.
4. Tunjuk jari atau pegang
Guru meminta siswa mengangkat jari telunjuk dan menggerakkannya sesuai instruksi. Misalnya, "angkat jari telunjuknya, putar ke kanan dua kali, putar ke kiri dua kali, lihat ke jari telunjuk, pegang dahi".
Jika ada siswa yang masih memegang bagian tubuh lain selain dahi, berarti belum fokus.
5. Tepuk tangan bernada
Guru bertindak sebagai dirigen, memberi isyarat untuk tepukan tangan. Jika tangan guru di atas, siswa tepuk tangan keras.
Jika tangan di bawah, tepukan harus pelan. Permainan ini melatih motorik dan fokus siswa, serta bisa menciptakan gelombang tepuk tangan sesuai barisan di kelas.
6. Permainan semut dan gajah
Guru memperagakan besar tapi menyebutkan kecil untuk semut, dan sebaliknya untuk gajah. Siswa bernyanyi sambil memperagakan: "semut-semut, gajah-gajah, semut-semut".
Guru berkeliling dan menunjuk siswa untuk mendeskripsikan semut atau gajah. Jika siswa salah, mereka maju ke depan.
7. Bernyanyi
Bernyanyi dengan gerakan tangan, seperti "satu jari kananku, satu jari kiriku, digabung jadi dua kubuat Jembatan".
Dilanjutkan dengan dua jari, tiga jari, dan seterusnya. Ini membantu mengusir kejenuhan dan membuat siswa fokus.
8. Marina menari di atas menara
Guru menyebutkan frasa, siswa memperagakan gerakannya. Contoh: "Marina menari di atas menara".
Guru mengecoh siswa dengan menyebutkan frasa secara cepat. Jika siswa salah memeragakan, berarti mereka belum fokus.
9. Makan apa sekarang
Permainan kelompok yang melatih kerjasama. Kelompok pertama menanyakan, "Makan apa sekarang?" Kelompok kedua menjawab, misalnya, "Makan ayam".
Dilanjutkan dengan "Ayam apa?" dan seterusnya. Kelompok yang tidak bisa menjawab atau buntu kalah.
10. Awali dan akhiri dengan kata benda
Permainan ini menguji kekayaan kosakata siswa. Contoh: "HP saya simpan di atas kasur". Siswa melanjutkan kalimat dengan kata benda, misalnya "kasur".
Siswa berikutnya melanjutkan dengan kata benda lainnya. Permainan berlanjut sampai ada yang terkecoh atau buntu.***

Share this article
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen penting bagi para siswa baru untuk beradaptasi.