AYOJAKARTA.COM-- Media ternama dunia, The New York Times menyoroti insiden berdarah pertandingan bola Arema vs Persebaya yang menewaskan lebih dari 100 orang di Stadion Kanjuruhan, Malang.
The New York Times membuat laporan tentang tragedi mengenaskan di Indonesia ini dengan judul “More Than 100 Dead in Unrest After Indonesian Soccer Match.”
Artikel tersebut menjelaskan tentang kronologi dari insiden berdarah yang terjadi pada laga sepak bola Arema vs Persebaya.
Baca Juga: Diharamkan FIFA, Kenapa Gas Air Mata Masih Diletuskan saat Duel Arema vs Persebaya?
“After a home team loss, fans rushed the field and were confronted by the police, who used tear gas. In the panic that ensued, many were trampled,” buka penulis pada bagian awal artikel.
Kemudian, penulis juga menjelaskan bahwa ada lebih dari 100 orang yang tewas dalam kejadian Sabtu malam di Malang.
“More than 100 people died Saturday night after a professional soccer match in Malang, Indonesia, when rioting fans prompted the police to fire tear gas into tightly packed crowds, according to local officials,” tulisnya.
Baca Juga: Tragedi Berdarah Usai Laga Arema Vs Persebaya, Benarkah Kesalahan dari Aparat Kepolisian?
Tak hanya melaporkan tentang kejadian yang baru saja terjadi, penulis bahkan menyinggung dan mengkritisi penyelenggaraan sepak bola di Indonesia yang sudah biasa dengan kekerasan.
“Soccer violence has long been a problem for Indonesia. Violent, often deadly rivalries between major teams are common,” tulis Sui-Lee Wee, penulis artikel.
Ia bahkan menyinggung supporter Indonesia yang memiliki komando untuk memimpin pasukan suporter pada pertandingan di seluruh Indonesia.
“Some teams even have fan clubs with so-called commanders, who lead armies of supporters to matches across Indonesia,” tambahnya di bawah tulisan sebelumnya.
Kemudian, Sui-Lee juga menyinggung suar, polisi anti huru-hara, serta kekerasan terkait sepak bola yang sudah memakan korban sejak 1990-an.
“Flares are often thrown on the field, and riot police are a regular presence at many matches. Since the 1990s, dozens of fans have been killed in soccer-related violence,” tutupnya.
Tak hanya The New York Times, berita tentang insiden berdarah Arema vs Persebaya juga sudah dibahas oleh banyak media asing lain misalnya AP News, ESPN, ABC7, dan lainnya.***

Share this article
insiden berdarah pertadingan sepak bola Arema vs Persebaya mendapat perhatian media asing, termasuk The New York Times, ini komentarnya