TEBET, AYOJAKARTA.COM – Memasuki semester kedua tahun ini, kinerja PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mulai memperlihatkan geliat ke arah pemulihan di tengah tekanan akibat merebaknya Covid-19 sejak awal 2020.
Data yang diperoleh Ayojakarta, sampai dengan Juli 2020 total penyaluran pembiayaan dari PNM mencapai angka sekitar Rp10,1 triliun. Capaian tersebut memang masih lebih rendah 12,35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya—ketika belum ada pandemi Covid-19—yakni Rp11,43 triliun.
Namun, laju penurunan penyaluran pembiayaan sampai dengan Juli 2020 dibandingkan periode sebelumnya (year on year/yoy)) itu justru memperlihatkan geliat yang mengarah ke arah perbaikan. Pasalnya, total kucuran kredit pada Juni 2020 masih terkoreksi 17,49% (y0y) dan pada Mei 2020 melemah 23,35%.
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?
Dari total Rp10,1 triliun dana yang digelontorkan BUMNyang fokus mengurusi pembiayaan usaha kecil ke bawah itu sampai Juli 2020, senilai Rp9,15 triliun diserap oleh nasabah program pembiayaan Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) atau turun 1,12% (yoy). Sisanya, mengucur ke pembiayaan Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) sebesar Rp866 miliar atau turun 60,16% (yoy).
“PNM memang dapat tugas untuk melayani segmen ultramikro. Pandemi tidak pandemi, ekonomi mereka tetap harus bergulir. Tentu tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan. Alhamdulillah outstanding pembiayaan kami masih bisa tumbuh 64,19% yoy dari Rp14,76 triliun menjadi Rp16,72 triliun,” kata Dirut PNM Arief Mulyadi kepada Ayojakarta, Kamis (27 Agustus 2020).
Selanjutnya Arief membeberkan lebih rinci tentang outstanding PNM yakni outstanding Mekaar tumbuh 103,16% yoy dari Rp8,28 triliun menjadi Rp10,37 triliun sampai dengan tujuh bulan pertama 2020. Sementara itu, outstanding ULaMM turun 2,12% yoy dari Rp6,48 triliun menjadi Rp6,34 triliun pada Juli 2020.
Kemudian Arief juga menyajikan juga data tentang nonperforming loan (NPL) dari PNM yang pantas mendapatkan perhatian. Rasio pembiayaan bermasalah atau NPL gross pada Juli 2020 berada di level 1,49% pada Juli 2020, padahal periode yang sama tahun lalu justru di angka 1,75%.
AYO BACA : Cara Mudah Mencairkan Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan via Lapak Asik Online
Arief mengapresiasi langkah pemerintah yang terus menggelontorkan bantuan untuk masyarakat dalam berbagai bentuk. “Dengan begitu, harapannya, ekonomi tetap bisa mengeliat lagi, meski tidak bisa langsung kembali normal.”
Berdasarkan laporan yang diterima Arief dari berbagai daerah, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—sebuah kebijakan yang memang harus diambil untuk mencegah penyebaran virus Corona—berpengaruh besar terhadap kegiatan ekonomi masyarakat bawah.
Bagaimana tidak. Perkantoran banyak yang meliburkan diri sehingga tidak ada karyawan yang belanja di warung nasi. Sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, sehingga murid-murid tidak ada yang jajan. Atau juga kawasan wisata yang masih belum normal sehingga pedagang souvenir kesulitan menjajakan barang mereka.
Untuk itu, menurut Arief, harus ada upaya untuk membuat bisnis di tingkatan itu tetap bisa berjalan. “Kami di PNM misalnya mengarahkan nasabah melakukan transisi usaha. Tentu disesuaikan dengan kondisi dan memiliki potensi pasar yang ada. Saat ini sudah mulai bergulir.”
Berkaca pada pengalaman PNM selama ini, Arief masih optimistis bahwa pedagang kecil dan usaha ultramikro lain bisa terus bertumbuh. Apalagi sekarang masyarakat banyak menerima bantuan pemerintah antara lain bantuan presiden produktif untuk usaha mikro. “Banpres produktif itu jelas amat membantu mereka sekaligus mengakselerasi pemulihan ekonomi.”
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Belajar dari Gus Baha dan Anak Tongkrongan

Share this article
Memasuki semester kedua tahun ini, kinerja PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mulai memperlihatkan geliat ke arah pemulihan di tengah tekanan akibat merebaknya Covid-19 sejak awal 2020.