BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Pandemi Covid-19 sempat membuat perasaan Devani Septanissa (25), pegawai swasta asal Kota Bandung, cemas dan waswas. Berita mengenai maraknya PHK dan penghasilan yang berkurang akibat situasi yang berubah membuatnya berpikir ulang mengenai masa depan.
Hal tersebut memaksa Deva, sapaan akrabnya, untuk memutar otak mencari solusi agar penghasilannya tidak hanya bergantung di satu tempat. Selain itu, kebijakan Work From Home (WFH) yang sempat diterapkan kantornya membuat dia merasa perlu melakukan sesuatu yang baru untuk mengisi waktu di rumah.
Akhirnya, pilihan jatuh pada memasak. Berawal dari inspirasi yang muncul di media sosial Instagram soal pembuatan makanan khas penutup asal Italia, Panna Cotta.
"Di Instagram itu orang-orang banyak yang bikin Panna Cotta, saya jadi penasaran untuk nyoba bikin. Cari bahan-bahannya, dan masak untuk di rumah," ungkapnya pada Ayobandung.com, jaringan AyoMedia, Sabtu (16/5/2020).
Dia kemudian mencoba menawarkan hasil olahannya tersebut pada rekan-rekan kantornya. Tak disangka, mereka meminta Deva untuk kembali membuat Panna Cotta untuk dipesan.
"Ternyata banyak yang suka, dan mulai nanya apa bisa PO (pre-order). Akhirnya saya nyoba untuk mulai lebih serius, dan mulai bikin akun Instagram untuk dessert yang saya bikin, namanya Semanis Kitchen," ungkapnya.
Hidangan penutup bernuansa manis yang banyak dicari selama Ramadan pun membuat Semanis Kitchen mulai kebanjiran pesanan. Hal ini kemudian dimanfaatkan Deva untuk menjual kudapan lain yang identik dengan suasana Ramdhan dan Idulfitri.
"Selama bulan puasa ini dalam sehari pesanan bisa sampai 20 buah. Berhubung momentumnya dekat dengan lebaran, saya juga jadi mulai bikin kue kering," jelasnya.
Deva mengaku tidak menyangka bisnis yang diawali dari rasa cemas akibat pandemi tersebut terus berkembang. Hal itu membuatnya senang, terlebih karena memasak selama ini adalah salah satu hal yang disukainya.
"Jadinya ngilangin stress, apalagi pas banyak yang pesan dan banyak yang transfer," ungkapnya seraya tertawa.
"Memang dasarnya senang masak juga sih. Jadi bahagia aja waktu di dapur nyiapin pesanan, dan membungkus makanan yang dipesan. Mungkin sebenarnya passion saya di sini," ungkapnya.
Apa yang dilakukan Deva tengah menjadi fenomena yang marak dijumpai di tengah masyarakat belakangan ini. Menekuni hobi adalah salah satu upaya warga untuk menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan baru akibat pandemi.
Mayoritas keseharian yang dihabiskan di dalam rumah memaksa orang untuk memutar otak agar tetap 'waras'. Upaya menjaga kewarasan tersebut tak jarang berujung pada eksplorasi berbagai kegiatan lain yang dianggap menyenangkan, menantang, atau bahkan menghasilkan uang.
Ulyya Nasution (25) juga mengalami hal yang sama. Pandemi membuat ibu satu anak tersebut lebih sering menghabiskan waktu di rumah, dan mulai merasa bosan akibat banyaknya waktu luang yang terbuang.
Dia yang menyukai hal-hal berbau seni dan kerajinan tangan kemudian mulai mengamati hiasan dinding rajut 'macrame' yang dimilikinya selama ini. Rasa ingin tahu mendorong Ullya untuk mengeksplorasi cara membuat hiasan serupa dengan tangan sendiri.
"Sudah mulai dari seminggu ini lah, karena kebanyakan waktu kali ya. Saya penasaran saja kok bisa bikin macrame seperti ini, modalnya berapa sih, dan kenapa bisa laku dijual," ungkapnya ketika ditemui di kediamannya di bilangan Muararajeun, Kota Bandung.
Dia kemudian mempelajari berbagai video tutorial yang bisa didapat cuma-cuma melalui media sosial, dan mulai berkreasi. Hal tersebut dinilai cukup menghibur dirinya yang tidak dapat bertemu teman-temannya selama pandemi.
"Daripada meratapi enggak bisa ketemu temen dan enggak bisa bukber karena corona, kenapa kita eggak coba sesuatu yang baru? Ini tuh rasanya menyenangkan dan menantang," ungkapnya.
Dia pun memilih untuk terus menekuni hobi barunya tersebut dan bersepakat dengan sang suami untuk saling kerjasama mengurus buah hati. Pasalnya, seperti dirinya, sang suami pun memiliki kegiatannya sendiri untuk mengisi hari-hari saat pandemi.
"Jadi saling kerjasama dan koordinasi saja, bahwa kita masing-masing perlu waktu untuk mengerjakan hobi," jelasnya.
Upaya 'mitigasi' krisis
Selain waktu yang lebih luang di rumah, situasi pandemi yang serba tidak pasti juga membuat Syafrida (65) mulai menggali kembali kegiatan lama yang sempat ditinggalkannya karena kesibukan bekerja. Narasi ancaman krisisis pangan yang belakangan banyak didengungkan pemerintah agaknya mengusik Syafrida untuk mulai kembali berkebun.
Bila biasanya Syafrida kerap menanam bunga, kali ini PNS tersebut mencoba menanam berbagai bibit sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi pribadi. Hal ini juga disebut menjadi modal kegiatannya untuk mengisi masa-masa pensiun yang tak lama lagi akan dihadapinya.
"Takutnya corona ini bikin harga bahan makanan di pasar juga jadi naik turun. Saya sebenarnya memang suka berkebun, tapi belum pernah nanam tomat dan cabai seperti sekarang. Iseng-iseng dan jaga-jaga saja sih," ungkapnya.
Selama satu setengah bulan belakangan, Syafrida telah berhasil menyemai dan menumbuhkan bibit tomat, cabai hijau, hingga kentang. Dia mengaku merasa cukup terhibur dengan kegiatan barunya tersebut.
"Ya perasaannya senang tiap lihat mulai tumbuh, lumayan menghibur. Sehari-hari juga saya masih kerja pakai Zoom (aplikasi teleconference), kadang stress kalau terlalu lama di depan komputer," ungkapnya. (Nur Khansa)

Share this article
Berita mengenai maraknya PHK dan penghasilan yang berkurang akibat situasi yang berubah membuatnya berpikir ulang mengenai masa depan.