AYOJAKARTA.COM - Musim libur perayaan hari Natal dan Tahun Baru atau Nataru 2024, diwarnai dengan fenomena kenaikan harga kebutuhan harian.
Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah wilayah di Indonesia, kenaikan harga di musim libur Nataru 2024 terjadi pada komoditi sayur-mayur.
Selain Jakarta, Medan dan Makassar, kenaikan harga sayur-mayur serta sejumlah komoditas pangan lain di musim Nataru 2024 juga terjadi dan dialami oleh masyarakat Yogyakarta.
Di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, kenaikan kebutuhan sayur dan pangan untuk keperluan harian tercatat hingga mencapai angka 80 persen jumlah komoditi.
Baca Juga: Banyak Kementerian Baru, Pemerintah Siap Buka Seleksi CPNS Tahun 2025?
Cabai Rawit Merah yang semula berada di kisaran Rp 25,000 per kilogram, di musim libur Nataru melonjak hingga menembus harga Rp 60,000.
Dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Rabu (25/12/2024) selain komoditi Cabai, kenaikan juga terjadi pada berbagai jenis sayur mayur seperti Brokoli, Sawi Hijau dan Putih, Telur, hingga Daging.
Menurut Pedagang di sejumlah pasar, lonjakan harga komoditi harian terjadi karena meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi dengan jumlah pasokan.
Kenaikan harga sayur-mayur, menurut Pedagang juga disebabkan akibat adanya perubahan fenomena cuaca yang terjadi secara ekstrim menjelang libur Nataru 2024.
Akibat adanya perubahan cuaca ekstrim di berbagai wilayah Indonesia yang berdampak banjir dan tanah longsor, hal tersebut turut mempengaruhi jumlah pasokan.
Terkait dengan fenomena serta dampak cuaca ekstrim, wilayah Wajo, Sulawesi Selatan hingga hari ini masih diselimuti banjir.
Banjir yang sudah terjadi sejak beberapa hari lalu, menurut pantauan di lokasi disebabkan karena peningkatan intensitas dan tingginya curah hujan.
Selain hujan yang berlangsung lebih intens dalam beberapa hari belakangan, luapan air yang menyebabkan banjir juga diakibatkan kondisi geografis para korban.
Sejumlah wilayah di Indonesia yang berada dalam kategori dataran rendah akan cenderung mengalami banjir, atau potensi tanah longsor bagi pemukim di dataran tinggi.
Sehubungan dengan adanya fenomena cuaca ekstrim, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sempat menyampaikan pemaparan.
Menurut Kepala BMKG, cuaca ekstrim yang terjadi pada musim Nataru 2024 cenderung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena lebih bersifat global, regional serta lokal.
Dalam keterangannya, Kepala BMKG menyebut curah hujan di Indonesia dibawa oleh Monsun Asia yang akan mencapai puncak pada periode akhir hingga awal tahun 2025.
Peningkatan cuaca ekstrim yang bersamaan dengan musim Nataru 2024, menurut Kepala BMKG juga disebabkan karena dampak aktifnya Gelombang Ekuatorial.
Kondisi Monsun Asia dan Gelombang Ekuatorial serta potensi Lanina, menjadi penyebab tingginya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
“Semuanya beramplifikasi menguatkan pembentukan awan hujan dan meningkatkan curah hujan lebat bahkan ekstrim, disertai angin kencang, petir dan gelombang tinggi,” jelasnya. ***

Share this article
Berdasarkan hasil pemantauan, kenaikan harga di musim libur Nataru 2024 terjadi pada komoditi sayur-mayur.