AYOJAKARTA.COM - Menjelang akhir tahun 2025, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dihadapkan pada tantangan besar, yakni serapan anggaran nasional yang baru mencapai 55 persen dari total pagu Rp3.621,3 triliun.
Angka ini berarti masih ada sekitar Rp1.629,6 triliun yang harus disalurkan hanya dalam waktu tiga bulan. Kondisi tersebut, menurut Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto, disebabkan oleh dua faktor utama: pembentukan Kementerian/Lembaga baru dan penerapan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran yang membuat banyak instansi harus merombak ulang rencana kerja dan anggarannya.
Purbaya menyadari bahwa rendahnya serapan anggaran bisa berdampak pada target pertumbuhan ekonomi 2025 yang ditetapkan sebesar 5,2 persen.
Baca Juga: Apa Saja Fitur Canggih yang Dimiliki Oleh Huawei Watch GT 6 Pro? Intip Spesifikasinya
Ia pun menekankan pentingnya percepatan belanja agar proyek strategis nasional tetap berjalan sesuai rencana.
Berdasarkan laporan Kemenkeu, hingga awal Oktober, realisasi belanja pemerintah pusat baru Rp1.481,7 triliun, sementara belanja K/L baru mencapai Rp815 triliun atau 63 persen dari total pagu.
Tak berhenti di situ, Purbaya juga melayangkan kritik tajam kepada Pertamina dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada 30 September 2025.
Ia menilai, lambannya pembangunan proyek kilang minyak nasional menjadi salah satu penghambat kemandirian energi Indonesia.
Padahal, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018, terdapat tujuh proyek kilang minyak strategis, namun sebagian besar kini terhenti atau disesuaikan ulang.
Pemerintah saat ini hanya melanjutkan empat proyek prioritas, yakni RDMP Balongan, RDMP Cilacap, Biorefinery Cilacap, dan Kilang Tuban.
Dari keempatnya, hanya RDMP Balikpapan yang menunjukkan kemajuan signifikan, mencapai 96,5% dengan investasi senilai US$7,4 miliar (Rp122,7 triliun).
Sementara proyek GRR Tuban masih tertahan akibat sanksi global terhadap Rusia, sedangkan RDMP Cilacap terhambat setelah mundurnya Saudi Aramco. Pertamina kini berfokus pada pengembangan kilang hijau atau biorefinery sebagai solusi berkelanjutan.
Purbaya berharap, peringatan ini menjadi momentum bagi Pertamina dan kementerian terkait untuk mempercepat penyelesaian proyek-proyek strategis. Jika tidak, impian Indonesia menjadi negara mandiri energi bisa semakin menjauh.***

Share this article
Menkeu Purbaya dorong percepatan serapan anggaran yang baru 55% dan kritik Pertamina atas lambannya proyek kilang minyak, agar target pertumbuhan ekonomi dan kemandirian energi tercapai.