SOLO, AYOJAKARTA.COM – Pergelaran seni budaya International Mask Festival (IMF) diselenggarakan dengan cara berbeda untuk tahun ini. Gelaran seni budaya tahunan berskala internasional diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19.
Namun, hal itu bukan menjadi halangan penyelenggara tetap menggelar seni pertunjukkan yang selalu menyedot animo wisatawan domestik dan mancanegara saat digelar di Kota Solo, beberapa tahun terakhir.
Melihat situasi dunia yang tengah dilanda pandemi Covid-19, IMF 2020 mulai beralih dari sebuah pergelaran menjadi acara virtual melalui pemberdayaan media baru.
“Perubahan dan penyesuaian masif yang mengiringi peralihan ini, menjadi tantangan tersendiri baik bagi penyelenggara maupun bagi seniman yang terlibat dalam IMF tahun ini,” kata Irawati Kusumorasri, pencetus IMF, Senin (15/6/2020).
Meski demikian, komitmen untuk terus mampu menyajikan acara seni yang berkualitas selalu menjadi semangat utama dari penyelenggaran virtual event ini.
AYO BACA : Ini Lirik “Banyu Moto ” Nella Kharisma feat Dory Harsa dengan Terjemahan Bahasa Indonesia
Melalui tema “Face Mask of Global Society”, IMF 2020 hadir dengan menggaet seniman dari dalam maupun luar negeri untuk menampilkan karya seninya secara daring pada 19-20 Juni 2020 pukul 17.00-21.00 WIB melalui platform Youtube, Instagram, dan Facebook SIPA Festival.
“Dipilihnya tema tersebut merujuk pada topeng sebagai salah satu penyalur nilai-nilai penting dalam kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Seperti diketahui, topeng adalah artefak seni yang sudah dikenal manusia sejak zaman prasejarah,” jelas Ira yang juga Direktur Solo International Performing Arts (SIPA)
Dengan usianya yang menembus batas, seni topeng telah mampu untuk ditempatkan menjadi sebuah karya yang agung dan sakral. Berbekal dari peran masker sebagai pelindung diri bagi masyarakat, IMF membawa topeng bersama fungsi dan bentuknya untuk menunjukkan era baru dari dunia.
Pada tahun ketujuh, penyelenggaraan IMF secara virtual akan mengenalkan topeng secara lebih mendalam kepada masyarakat dunia digital.
Acara tersebut hadir sebagai wujud penggambaran perkembangan topeng klasik ke kontemporer melalui sebuah media baru.
AYO BACA : Ini Ungkapan Terdalam Kekeyi Saat Lagunya Lenyap dari Youtube
“Melalui impian untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap seni topeng, kehadiran IMF diharapkan mampu memberikan edukasi tentang apresiasi seni bagi masyarakat,” tuturnya.
“Sekaligus sebagai sarana penjagaan nilai dari kehidupan seni yang merupakan bagian dari kehidupan budaya yang menjadi karakter bangsa,” sambungnya.
Selama dua hari, IMF menghadirkan pertunjukan topeng dari berbagai daerah secara berbeda dari biasanya. Para seniman dan seniwati dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia seperti Solo, Semarang, Pati, Malang, Cirebon, Banyumas, Ponorogo, Yogyakarta, Pamekasan, Sukabumi, Bali, Kalimantan Tengah, dan NTB akan berpartisipasi dalam IMF tahun ini.
Selain itu, delegasi luar negeri dari negara Malaysia, Zambia, Bhutan, Prancis, Korea, Belgia, Ekuador, dan Jepang juga turut memeriahkan virtual event IMF 2020.
Pada acara ini, akan ditayangkan pula video dokumenter pembuat topeng dari masyarakat lintas budaya. Dengan dibuka untuk umum, gelora spirit seni topeng yang disajikan pada acara ini diharapkan dapat tersalurkan kepada masyarakat secara luas, selaras dengan maksud penyelenggaraan IMF 2020 itu sendiri.
Di bawah naungan SIPA Community, IMF diadakan setiap tahunnya di Kota Solo, Jawa Tengah. Acara ini pertama kali dicetuskan oleh Irawati Kusumorasri dengan nama IIMF (Indonesia International Mask Festival), yakni pada tahun 2014.
Namun selama beberapa tahun belakangan, IIMF berganti nama menjadi IMF seperti yang dikenal oleh masyarakat Solo hingga saat ini. IMF masuk dalam agenda pariwisata Kota Solo karena menyedot animo luar biasa dari wisatawan mancanegara.
AYO BACA : Diproduseri Chossy Pratama, Wanita Bertopeng Sanchai Yang akan Rilis Single Pada Siapa

Share this article
Pergelaran seni budaya International Mask Festival (IMF) diselenggarakan dengan cara berbeda untuk tahun ini. Gelaran seni budaya tahunan berskala internasional diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19.