JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pejabat kesehatan Amerika Serikat mengkonfirmasi kasus kedelapan penularan virus corona baru yang menyebar cepat di negara adidaya itu.
Pentagon mengatakan akan menyediakan perumahan bagi orang-orang yang datang dari luar negeri yang mungkin perlu dikarantina.
Jurubicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dalam sebuah pernyataan melalui surat elektronik yang dilansir dari Reuters, mengatakan, pasien terakhir AS, yang berada di Massachusetts, baru-baru ini kembali dari provinsi Hubei di China tengah. Namun CDC tidak memberikan informasi rincian lain atau identitas orang itu.
Wabah virus corona yang diyakini berasal dari pasal ilegal di ibukota provinsi Hubei, Wuhan, sejauh ini telah mengakibatkan 304 kematian di China.
Menurut CDC, 27 negara lain telah mengkonfirmasi terinfeksi virus mematikan itu. Semua kecuali satu pasien di Amerika Serikat, diyakini tertular penyakit saat mereka bepergian di daerah Wuhan. Pejabat AS minggu ini melaporkan penularan penyakit manusia ke manusia yang pertama di Illinois.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, Pentagon mengatakan, Menteri Pertahanan Mark Esper menyetujui permintaan bantuan dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan untuk dukungan perumahan bagi 1.000 orang yang mungkin dikenai karantina pada saat kedatangan dari luar negeri.
Para pejabat kesehatan telah meminta Departemen Pertahanan untuk menyediakan beberapa fasilitas yang mampu menampung sedikitnya 250 orang di kamar masing-masing hingga 29 Februari.
Pentagon mengatakan, empat instalasi militer telah dipilih: dua di California, satu di Colorado, dan satu di Texas. Dikatakan personil Departemen Pertahanan hanya akan memberikan dukungan perumahan. Sementara untuk semua perawatan dan transportasi menjadi tanggung jawab HHS.
"Personel DOD tidak akan secara langsung berhubungan dengan para pengungsi dan para pengungsi tidak akan memiliki akses ke lokasi pangkalan selain perumahan yang ditugaskan mereka," kata Pentagon.

Share this article
Pasien terakhir AS, yang berada di Massachusetts, baru-baru ini kembali dari provinsi Hubei di China tengah. Namun CDC tidak memberikan informasi rincian lain atau identitas orang itu.