AYOJAKARTA.COM -– Daryono pada mulanya membuat cuitan terkait gempa bumi yang terjadi di Turki bagian selatan yang berbatasan dengan Suriah.
Dimana belum lama ini gempa bermagnitudo 7,8 mengguncang pada 6 Februari 2023, Senin pagi, kemarin di Turki.
Dikutip melalui Twitter @daryonoBMKG dan laman eurasiatectonics oleh ayojakarta.com pada 7 Februari 2023, Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, membagikan gambar terkait data gempa bumi di Turki.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Turki M 7,8 Mencapai 3.800 Jiwa, WHO Sebut Masih Bisa Meningkat hingga...
“BMKG menentukan parameter gempa besar di Turki dengan baik. Waktu gempa terjadi pukul 8.17 WIB Mag. 7,8 kedalaman hypo. versi kami 11 km,” tulis Daryono melalui cuitannya.
Gambar yang menampilkan titik lokasi, lengkap dengan data parameter, kekuatan, gempa, kedalaman, hingga data lainnya.
Kemudian, pada malam sekitar pukul 20.54 WIB, Daryono membagikan analisanya terkait gempa yang merenggut korban jiwa di Turki tersebut. Sesar Anatolia yang mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia.
Apa sesar Anatolia itu? Sebelumnya, berikut analisa dari Daryono
Gempa merusak M7.8 yang berpusat di Turki selatan, berada di persimpangan tiga Lempeng Anatolia, Arab, dan Afrika.
Menurut Daryono, hasil monitoring gempa susulan Turki Selatan menunjukkan panjang retakan di jalur patahan lebih dari 300 kilometer.
Patahan ini pecah hampir sepanjang Patahan Anatolia Timur. Hal ini menyebabkan patahan geser sebesar 6-10 mm/tahun dan juga tsunami kecil setinggi 30 cm yang menghantam Erdemli.
Daryono juga mengungkapkan bahwa Gempa yang terjadi di Turki Selatan tersebut merupakan gempa bumi di titik gempa yang padat penduduk yang menyebabkan banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.
Gempa yang terjadi pada 6 Februari 2023 kemarin merupakan salah satu gempa terdahsyat setelah peristiwa gempa M7.8 pada Desember 1939 di timur laut Turki, dekat jalur Sesar Anatolia Utara.
“Gempa kerak dangkal yang merusak di Turki Magnitudo 7.8 hari ini tampaknya berasosiasi dengan zona Sesar Anatolia Timur yang mengimbangi dinamika tektonik Lempeng Arab dan Anatolia,” cuit Daryono.
Sementara gempa susulan terbesar dengan magnitudo 7.6 di Anatolia Timur tampaknya dipicu sumber di luar dari jalur patahan utama, Sesar Anatolia Timur.
Mekanisme sumber gempa dan distribusi gempa susulan yang banyak menunjukkan pecahnya Patahan Anatolia Timur. Zona gempa susulan ini tampak dengan jelas membentang ~250 km di sepanjang zona patahan sumber gempa mematikan di Turki Selatan ini.
Baca Juga: Gempa Turki Memicu Rentetan Gempa bumi di Belahan Dunia Lain? BMKG Tegaskan Hal Ini!
Meskipun begitu, Daryono menegaskan bahwa gempa di Turki tidak akan memicu gempa dahsyat di tempat lain termasuk Indonesia, dan Daryono menghimbau untuk hati-hati terhadap teori cocoklogi gempa di Turki.
“Tetapi sama sekali tidak akan memicu gempa dahsyat di tempat lain di dunia. Jangan otak -atik gathuk dengan teori rambutan gempa, yang tiada dasar,” tulis Daryono.
Sesar Anatolia adalah sesar yang berbagi batas dengan Lempeng Eurasia, Lempeng Afrika, Lempeng Arab, dan Lempeng Laut Aegea.
Sesar Anatolia lebih dikenal aktif pergerakannya melalui sesar Anatolia bagian utara yang mana sudah dikenal karena pergerakannya menyebabkan gempa bumi pada 1939.
Menurut eurasiatectonics, Sesar Anatolia Utara dicirikan oleh periode kerusuhan seismik yang dipisahkan oleh periode tenang (seismic gap) sekitar 150 tahun. Meskipun begitu, analisa terkait sesar Anatolia penyebab gempa kemarin, yang mana berpusat di Turki Selatan, membutuhkan waktu untuk meneliti lebih lanjut.***(Zharifah Ardiana)

Share this article
Daryono pada mulanya membuat cuitan terkait gempa bumi yang terjadi di Turki bagian selatan yang berbatasan dengan Suriah.