TEBET, AYOJAKARTA.COM – Lie Amin merupakan salah satu saudagar furnitur terbesar di Indonesia. Sudah 25 tahun dia melakoni bisnis membuat lemari, meja, kursi, dan lain-lain.
Namun, furnitur rumah tangga yang sudah dia kerjakan selama puluhan tahun terpaksa berubah haluan ketika pandemi Covid-19 menyerang. Terlebih, pada Maret lalu Lie harus kehilangan adik ipar dan pada bulan April, besannya juga meninggal dunia.
Keduanya meninggal karena Covid-19. Lie yang enggan membuat peti mati, akhirnya mengubah pandangannya ketika dia harus kehilangan mertua dan adik iparnya.
Lie mulai menceritakan bahwa pada 20 tahun yang lalu, rekan bisnisnya mengajak untuk berbisnis peti mati. Namun, Lie menolak karena secara tidak langsung dia mengharapkan akan banyak orang yang meninggal agar pabriknya lancar.
AYO BACA : Hingga Hari Ini Pemprov DKI Makamkan 639 Jenazah dengan Protap COVID-19
“Jadi saya dalam hati, waktu masih muda ya (saya berpikir) jangan lah. Kalau saya bikin peti mati, ntar pabrik saya laris, berdoa supaya Tuhan pabrik ini laris, berarti banyak orang mati kan. Saya bilang ke temen saya, aku enggak mau. Karena mengharapkan orang mati supaya pabrik kamu lancar. Saya punya hati nurani begitu,” kata Lie yang mulai bercerita dalam videonya yang diunggah akun YouTube FMB9ID_IKP, Minggu (8/11/2020).
Lalu, rekan bisnis Lie bernama Jimmy, menghubunginya 9 bulan lalu. Jimmy menghubungi Lie untuk dibantu membuatkan peti mati, yang akhirnya Lie menyetujuinya terlebih dia telah kehilangan mertua dan adik iparnya karena Covid-19.
Lie Amin dan Jimmy membuat lebih dari 1.000 peti mati per bulannya. Dia mengaku bahwa harga peti mati khusus Covid-19 yang dijualnya sangat murah.
“Di bawah Rp 1 juta. Iya murah banget sekitar Rp900-an ribu. Tergantung bahan yang kita pakai,” ujarnya.
AYO BACA : Seram, Dua Wilayah di Jakarta Punya Replika Peti Mati Jenazah Covid-19
Selain menceritakan asal mula perjalanan bisnisnya membuat peti mati Covid-19, Lie juga menceritakan bagaimana karyawan-karyawannya merasa takut ketika mulai membuat peti mati.
“Takut mereka. Biasanya kan kita lembur sampai jam 10, sekarang enggak berani. Saya ketawa. Saya bilang, peti itu seperti tempat tidur. Kita udah bikin puluhan tempat tidur, takut kenapa?,” tutur dia.
Ketika ditanya lebih memilih bisnis furniture atau peti mati, Lie menjawab bisnis furniture. Hal ini diungkapkan Lie karena untung yang didapat lebih banyak.
“Peti mati ini seperti komoditi. Kita pakai mesin mass production. Namun sebaliknya, kalau kita enggak produksi, bayangkan hampr 4 ribu dalam 5 bulan, ini peti siapa yang mau buat,” tanya Lie.
Lie menyampaikan pesannya kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Dia berpesan agar masyarakat tetap berpikir positif dan jangan mengeluh.
“Jangan kita caci maki dan menyalahkan orang. Marilah kita dengan iman dan doa kepada Tuhan yang maha kuasa, kita ulet kerja dan rajin untuk kreatif,” imbaunya.
Walau banyak pesanan peti mati, Lie dan Jimmy tidak berharap pesanan-pesanan peti mati terus meningkat. Mereka hanya ingin agar pandemi cepat berakhir dan Indonesia cepat pulih.
AYO BACA : Pemprov DKI Pastikan Peti Jenazah Pasien Corona Aman dari Penularan
![[ilustrasi] Sejumlah pekerja tengah membuat peti jenazah khusus Covid-19 di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Senin (4/5/2020). (Suara.com/Zian Alfath)](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/20/peti_jenazah_pasien_corona.jpg)
Share this article
Lie Amin merupakan salah satu saudagar furnitur terbesar di Indonesia. Sudah 25 tahun dia melakoni bisnis membuat lemari, meja, kursi, dan lain-lain.